watch sexy videos at nza-vids!
KING OF SEX
Bookmark Now!!
http://kingsex.jw.lt

Memuaskan nafsu keponakan ku
Not Found404; Not Found

Minggu lalu, aku sedang berada di
kota Surabaya. Aku datang untuk
mengantarkan konsultan ke kantor
cabang perusahaan kami di kota itu.
Seperti yang telah aku ceritakan
sebelumnya, perusahaanku sedang melakukan implementasi software
baru. Disamping memperkenalkan
sistim dan prosedur kerja yang baru,
si konsultan juga mengadakan
training kepada karyawan kantor
cabang tersebut. Surabaya masih tetap seperti dulu.
Panasnya bukan main. Ditambah
dengan lalu lintasnya yang semrawut
menambah gerah suasana. Meskipun
begitu, suasana kota tampak masih
lebih ramah dibandingkan Jakarta. Pagi itu, si konsultan mengadakan
training untuk para karyawan. Setelah
memberikan kata sambutan, dan
sekadar berbasa-basi dengan
pimpinan cabang di sana, akupun
kembali ke hotel. Tidak betah lama- lama aku di kantor itu, karena bosan
juga mendengarkan training dari si
konsultan. Pak Joko, pimpinan
cabang, mengantarku untuk kembali
ke hotelku di kawasan Embong
Malang. "Perlu saya antar ke mana lagi Pak
Robert?" tanyanya.
"Nggak Pak Joko.. Saya nggak mau
keluar kok. Sedang nggak enak
badan nih" jawabku. Memang aku merasa agak sakit hari
itu, mungkin terserang flu. "Perlu saya antar ke dokter Pak?"
"Nggak usah. Saya sudah minum obat
kok".
"Baik bener sih.. Kepengin naik gaji
ya?" pikirku lebih lanjut dalam hati. Sesampainya di kamar hotel, akupun
minum obat flu yang memang sudah
aku siapkan. Rasa kantuk segera
menyergap, dan akupun segera
terlelap. Ketika bangun, aku merasa perutku
sudah keroncongan, dan kulihat
memang sekarang telah jam 2.00
siang. Kuraih menu room service yang
berada di meja, tapi kubatalkan niatku
untuk memesan. Aku ingin jalan-jalan sambil makan saja ke pusat
perbelanjaan yang terletak di samping
hotelku ini. Mungkin setelah cuci mata,
badanku malah terasa agak baikan. Saat makan di food court, banyak juga
anak ABG yang nongkrong di sana.
Nggak kalah juga dengan Jakarta,
pikirku. Ada dua anak ABG manis
yang sedang makan di meja
sebelahku. Mereka tampak tersenyum-senyum menggoda.
Nafsukupun mulai timbul, dan akupun
berniat untuk mendekati mereka. Tiba-tiba terdengar suara wanita di
sebelahku. "Hey, Oom Robert. Kok ada di sini?
Kapan datang?" Kulihat ke arah suara itu, dan tampak
seorang wanita cantik, berkulit putih
tersenyum padaku. "Ehh.. Lolita, kemarin datangnya.
Sendirian aja?" Ternyata dia adalah Lolita,
keponakanku. Dia anak sepupu
jauhku. Umurnya 26 tahun dan baru
saja dia menikah setahun yang lalu.
Dia dan suaminya berprofesi sebagai
dokter gigi, dan mereka bertemu saat sama-sama kuliah dulu. "Iya Oom. Suamiku sedang ke dokter"
"Udah lama ya nggak ketemu,
semenjak pesta pernikahanku dulu"
lanjutnya. Kamipun kemudian duduk bersama
dan berbincang-bincang. Kulirik meja
sebelah, dan kedua ABG tadi tampak
kecewa terhadap kedatangan
keponakanku. Tak lama merekapun
pergi, mungkin mencari mangsa Oom- Oom yang lain, he.. He.. "Oom nginep dimana?" tanya Lolita
sambil menyantap sotonya.
"Di sebelah" jawabku.
"Oh.. Lita belum pernah nginep di
sana. Bagus nggak Oom kamarnya?"
"Yach lumayan. Kamu pengin lihat? Kalau begitu kita terusin ngobrolnya
di hotelku yuk" ajakku. Setelah selesai menyantap hidangan,
kamipun berjalan menuju hotelku. Terus terang aku tertarik dengan
Lolita. Wajahnya yang cantik, kulitnya
yang putih bersih, juga dari
pembawaannya yang anggun. Hanya
saja satu kekurangannya, yaitu buah
dadanya yang kecil. Meskipun begitu, aku tidak berani melakukan yang
macam-macam dengannya, karena
tampak dia adalah wanita yang baik-
baik. Berpakaianpun selalu sopan,
meskipun hal itu tidak mengurangi
pandangan laki-laki di plaza tersebut saat kami berjalan melintas. Tampak
mereka mengagumi wajah Lolita yang
memang cantik dan anggun itu. "Mau minum apa Lit?" tanyaku sambil
membuka minibar sesampainya di
kamarku.
"Coca Cola aja deh Oom" jawabnya.
Kuambil sekaleng coke dan kuberikan
padanya. "Kamu gimana.. Sudah hamil belum?"
tanyaku.
"Belum Oom.. Suamiku masih ada
masalah" jawabnya lirih.
"Lho memang kenapa?" selidikku
lebih lanjut. "Malu ah Oom"
"Jangan malu-malu Lit. Kita khan
masih saudara. Terlebih saya pasti
akan merahasiakan hal ini kok" Lolitapun kemudian curhat
menceritakan keadaan rumah
tangganya. Ternyata suaminya
menderita diabetes, dan itu
berkomplikasi yang membuatnya
menjadi impoten. Saat bercerita tampak bola mata Lolita mulai
berkaca-kaca. "Terus kamunya sendiri bagaimana
Lit?" tanyaku penuh perhatian.
"Yah aku mencoba untuk
menyembuhkan suamiku" jawabnya
lagi lirih.
"Teruskan Lit, ceritamu. Jangan sungkan-singkan. Mungkin Oom bisa
kasih saran" kataku. Dia kemudian bercerita suaminya telah
berobat dari modern medicine sampai
yang alternatif, tetapi masih juga
kemaluannya tak bisa gagah perkasa
seperti lelaki normal. Memang ada
kemajuan, sudah bisa sedikit ereksi, tetapi tidak bisa terlalu keras. Lolita
kemudian bercerita juga bahwa dia
sebenarnya sudah tidak tahan
dengan keadaan ini, dan sempat
berpikir akan menceraikan suaminya.
Tapi itu tidak dapat dilakukannya karena cintanya yang sangat besar
pada Andi suaminya itu. "Oom sendiri kok belum menikah
sih?"
"Belum dapet yang cocok Lit"
jawabku.
"Wah.. Padahal pasti banyak wanita
yang pengin jadi istrinya Oom. Soalnya Oom kelihatannya laki-laki banget"
kata Lolita sambil tersenyum
menggoda. Nafsuku terus terang mulai naik,
melihat Lolita seperti memberikan
lampu hijau untukku. Kuraih
tangannya yang halus dan mulai
kuremas-remas. "Maksudnya apa Lit?"
"Iya.. Maksud Lita.. Istri Oom nanti
pasti puas.." jawabnya lirih sambil
wajahnya tampak merona merah. Tanganku mulai merambat naik dan
merengkuh pundaknya. Kuelus-elus
pundaknya. Kudengar dengusan
napas Lolita memberat. Tak kusia-
siakan lagi waktuku. Kuremas
rambutnya perlahan sambil kutarik wajahnya. Bibirkupun segera beradu
dengan bibir tipisnya yang merekah. "Hmm.. Hmm." erangan Lolita ketika
dengan bernafsu kulumat bibirnya.
Tangan halus Lolita telah mulai
merabai kemaluanku. Seperti tak
sabar dia ingin menikmati kejantanan
seorang lelaki tulen. Tiba-tiba suara HPnya berbunyi. "Halo.. Oh ya Mas.. Gimana hasilnya?" Ternyata suaminya yang menelpon. "Ok Mas.. Aku masih ada urusan.
Ketemu di rumah aja ya" Setelah itu Lolita menutupnya telepon
genggamnya. Diraihnya lagi wajahku
dan diciuminya bibirku dengan
bernafsu. Tangannya kembali
mengelus-elus kemaluanku. "Puaskan Lita Oom.." desahnya. Tiba-tiba aku sadar, bahwa wanita ini
adalah keponakanku sendiri. Terlebih
akupun kenal baik dengan Andi,
suaminya. Juga dengan ibunya yang
sepupuku itu. "Jangan Lit.. Ini nggak boleh. Nggak
enak sama suamimu," kataku sambil
beranjak menjauh darinya. Tampak Lolita kecewa, tapi dia hanya
terdiam saja. Akupun kemudian
mengajaknya berbincang-bincang
lagi untuk mengalihkan perhatiannya.
Lolita tampak semakin canggung dan
malu, karena tak bisa mengontrol nafsu birahi yang bergolak dalam
tubuh mudanya. Tak lama iapun
pamit. ***** Esoknya aku menyempatkan diri
untuk melihat training yang masih
berlangsung di kantor cabangku. Si
konsultan sedang menjelaskan cara-
cara input data-data penjualan serta
cara membuat report dengan menggunakan wizzard. Bosan
mendengarnya, aku menuju ruangan
Pak Joko, si kepala cabang. "Pak Joko sedang ke bank Pak.
Silahkan tunggu saja di dalam"
sekretarisnya menyapaku. Akupun masuk dan menunggu di
dalam sambil duduk membaca koran.
Tak lama si sekretaris kembali masuk. "Mau minum apa Pak Robert?"
tanyanya manis.
"Kopi deh." Si sekretaris, yang bahkan sampai saat
ini tak kuketahui namanya itu, segera
berlalu. Dia berwajah manis khas
orang Jawa. Yang menarik
perhatianku adalah buah dadanya
yang membusung dan pantatnya yang besar. "Silakan Pak.. Ada lagi yang bisa saya
bantu Pak Robert?" tanyanya penuh
hormat.
"Iya.. Kamu temanin saya ngobrol di
sini sambil nunggu Pak Joko ya"
kataku. Diapun tersenyum sambil duduk di
kursi. "Dekat sini.. Masak jauh banget"
kataku. Sekretaris Pak Joko inipun
kemudian duduk di sebelahku.
"Sudah lama kamu kerja di sini?"
"Baru satu tahun Pak."
"Suami kerja di mana?" "Di bagian accounting, Pak"
"Oh.. Suamimu kerja di perusahaan ini
juga?" tanyaku memperjelas.
"Iya Pak.. Sekarang khan sedang
ditraining" jawabnya. Suasana di kantor itu sedang sepi,
karena memang sebagian besar
karyawan sedang mengikuti training
software baru. Rasa isengku tiba-tiba
timbul. Ingin aku mengerjai sekretaris
Pak Joko ini. "Kamu manis ya.. Kamu karyawan
yang paling manis lho di kantor ini"
kataku sambil memegang tangannya.
"Ihh.. Pak Robert bisa saja" jawabnya
tersipu.
"Bener lho.. Kamu manis dan seksi" rayuku lagi sambil mengelus-elus
tangannya.
"Pak Robert.. Bener kata orang.. Pak
Robert playboy" jawabnya lirih. Saat itu tanganku sudah merengkuh
dan mengelus-elus pundaknya. "Boleh minta cium ya?" tanyaku
sambil menarik wajahnya ke arahku.
"Jangan Pak.. Nanti ketahuan orang"
elaknya.
"Nggak kok.. Kalau ada orang datang,
kita pasti tahu" jawabku lagi. Memang ruang tamu kantor Pak Joko
ini agak tersembunyi sehingga jika
ada orang yang masuk, tidak
langsung melihat ruang tamu. Kumulai
menciumi bibirnya. Sementara
tanganku mulai meraba buah dadanya yang besar. "Dadamu besar ya.. Pasti suamimu
suka minum susumu ya?" tanyaku.
"Pak Robert.. Nakal.." jawabnya
mendesah.
"Aku pengin minum susumu juga ya?
Boleh khan?" tanyaku sambil membukai kancing bajunya. Dia tak menjawab, hanya mendesah
perlahan ketika kuangkat BHnya dan
kuremas buah dadanya yang ranum
itu. Kudekatkan wajahku pada bukit
kembar yang menantang itu, dan
kujilat puting susunya. Erangannya makin terdengar, dan tak sabar
kuhisap buah dadanya dengan
gemas. "Sshh.. Sshh" erangnya ketika aku
menikmati kekenyalan buah dadanya
yang besar. Tanganku yang satu
memilin-milin perlahan puting susu
buah dadanya yang lain. Setelah puas mempermainkan buah
dadanya, kembali kucium bibirnya. "Ayo gantian kamu hisap punyaku
ya?" kataku setengah memerintah. Kutarik tubuhnya sehingga dia
bersimpuh didepanku yang masih
duduk di sofa. "Pak Robert.. Jangan.. Takut ketahuan
suamiku" katanya ketika tangannya
kuraih dan kuletakkan di atas
kemaluanku.
"Nggak mungkin.. Dia khan sedang
training" jawabku. Diapun kemudian mulai membuka
retsleting celanaku. Kubantu dia
dengan menarik celana dalamku
kebawah. "Ahh.." jeritnya tertahan ketika
melihat kemaluanku yang besar telah
tegak di depan wajahnya yang manis.
"Cukup besar khan?" tanyaku
"Besar banget Pak."
"Dibandingkan punya suamimu?" "Besar punya Pak Robert. Pasti istri
bapak puas" jawabnya.
"Ya.. Tapi aku belum punya istri.. Ahh"
perkataanku terputus oleh rasa
nikmat yang menjalar ketika ia mulai
menjilati batang kemaluanku. Dijilatinya perlahan kemaluanku, dan
kemudian sambil matanya
menatapku, dimasukkannya secara
perlahan kepala kemaluanku ke
dalam mulutnya. "Hmm.." erangku nikmat. Kuremas-
remas kepalanya saat ia mulai
menghisapi dan mengulumi
kemaluanku. Tampak mulutnya yang
mungil penuh sesak dengan
kejantananku. Tiba-tiba terdengar suara pintu
ruangan terbuka. Cepat-cepat
kukeluarkan kemaluanku dari mulut
sekretaris Pak Joko ini, dan kubenahi
celanaku. Diapun segera membenahi
bajunya yang masih terbuka. "Ada perlu apa lagi Pak Robert.. Oh ini
Pak Jokonya sudah datang" katanya
berpura-pura.
"Oh nggak. Cukup. Terimakasih"
jawabku.
"Hey Pak Robert sudah lama nunggu?" tanya Pak Joko.
"Nggak kok baru saja. Untung ada
sekretaris bapak yang menemani
menunggu." jawabku. Kulirik sekretaris Pak Joko, dia
tersenyum manis dan kemudian
beranjak keluar ruangan kembali ke
mejanya. Siang itu kuhabiskan
berbincang-bincang dengan Pak
Joko. Makan siangpun dilakukan di ruangan itu bersamanya. Setelah itu,
aku minta Pak Joko mengantarku
kembali pulang ke hotel.
Sore itu aku sedang menonton TV di
kamar hotelku, ketika telepon
berbunyi. Kuraih pesawat telepon
yang terletak di meja samping
ranjangku. "Hallo Oom Robert. Ini Andi. Apa
kabar?"
"Baik. Kamu sendiri bagaimana?"
"Lumayan. Kemarin Lolita cerita kalau
ketemu dengan Oom di Tunjungan
Plaza ya?" Kamipun lalu berbasa-basi sejenak.
Kuraih remote TV karena suaranya
terlalu keras sehingga menggangu
pembicaraan kami. "Oom.. Saya ada sesuatu yang perlu
dibicarakan. Boleh saya mampir?"
"Of course. Ada apa sih?" tanyaku
sedikit khawatir. Jangan-jangan Lolita
cerita tentang kejadian kemarin.
"Nanti aja deh saya cerita. Jam 5 nanti saya ke hotel ya" jawab Andi di
seberang sana. Sekitar jam 5.15, terdengar bunyi bel
pintu di kamarku. Seperti kuduga,
ternyata Andi, suami Lolita
keponakanku yang datang. "Masuk Di"
"Makasih Oom". Kamipun kemudian berbasa-basi
menanyakan kabar masing-masing.
Tak lama akupun bertanya maksud
sebenarnya kedatangan Andi. "Begini Oom. Mungkin Lolita sudah
cerita tentang keadaan saya. Saya
datang untuk minta bantuan Oom."
"Bantuan apa Di?" tanyaku walaupun
sebenarnya aku sudah bisa menebak
arah pembicaraannya. "Jangan tersinggung ya Oom. Kita
minta supaya Oom sewaktu-waktu
jadi suami pengganti buat Lolita"
"Maksudmu?"
"Oom kan tahu. Saya tidak bisa
memenuhi kebutuhan seks Lolita karena penyakit saya. Mungkin Oom
Robert berkenan memenuhinya." Andipun kemudian bercerita lebih
lanjut, bahwa telah beberapa bulan
Lolita memintanya untuk mencari
lelaki untuk memuaskan birahinya.
Karena ia sangat menyayangi istrinya
dan takut bila Lolita menuntut cerai, iapun terpaksa menyanggupi. Tetapi
sampai saat ini, dia belum
mendapatkan yang cocok.. Kemarin
setelah bertemu denganku, Lolita
meminta suaminya untuk
menanyakan kesediaanku untuk menjadi pemuas birahinya. "Tolong ya Oom. Kasihan istri saya. Dia
masih muda. Please ya Oom. Dia
mengancam akan panggil gigolo atau
bahkan akan menceraikan saya bila
saya gagal membujuk Oom" Andi
setengah merengek memintaku untuk meniduri istrinya yang cantik itu. Akupun terdiam. Dalam hati aku heran
mengapa selalu saja wanita
memandangku sebagai pemuas nafsu
mereka. Entah ini berkah atau
kutukan bagiku. "Ok deh. Ini karena saya kasihan saja
sama kalian." jawabku
"Terimakasih ya Oom. Nanti malam jam
berapa saya ajak Lolita ke sini?"
"Jam 8 deh" sahutku. Andipun kemudian pamit
meninggalkan kamarku. ***** Jam 7.45 mereka telah tiba di
kamarku. Lolita tampak cantik malam
itu menggunakan gaun malam
terusan yang memamerkan
pundaknya yang putih mulus. "Saya tinggal ya Oom" kata Andi
sambil beranjak dari tempat
duduknya.
"Jangan. Kamu tetap di sini saja. Siapa
tahu kamu sembuh nanti setelah
melihatku menyetubuhi istrimu" perintahku. Sudah kepalang tanggung, pikirku.
Akupun harus menikmati malam ini.
Menyetubuhi istri orang di depan
suaminya adalah salah satu favoritku.
Lolita tampak kaget mendengar
permintaanku itu, tetapi dia tetap diam tak menyuarakan penolakannya. Kuhampiri Lolita yang duduk di tepi
ranjang. Akupun kemudian duduk di
sampingnya. "Nggak apa khan sayang.. Kalau
suamimu nonton" tanyaku sambil
mengelus-elus pundaknya yang
halus.
"Ng.. Nggak" jawabnya agak gugup
dan wajahnyapun memerah menahan malu.
"Tuh Di, nggak apa kok. Sudah kamu
duduk aja yang manis di situ. Oom
akan mulai memuaskan istrimu OK?"
kataku pada Andi. Andipun menurut, dan duduk di kursi
menatap ke arah dimana istrinya dan
aku berada. Kumulai menciumi
pundak Lolita yang mulus. Kemudian
dengan lidahku kutelusuri lehernya
yang jenjang. Lolita mulai mengerang ketika sambil
kujilati lehernya, tanganku mulai
merabai buah dadanya. Kuremas
rambutnya dan kutarik wajahnya ke
arahku sehingga akupun dapat
melumat bibirnya dengan penuh gairah. Lolitapun nampak bernafsu
sekali menciumiku. Lidahku yang
menerobos ke dalam mulutnya,
dikulumnya dengan gemas.
Sementara tanganku yang mengusap-
usap dadanya, merasakan puting buah dada itu mulai mengeras. "Sekarang aku akan menghisap buah
dada istrimu. Kamu perhatikan baik-
baik ya" kataku pada Andi yang
menatap tak berkedip. Aku turunkan perlahan tali gaun
malam Lolita, sehingga buah dadanya
yang kecil tapi padat itu nampak.
Langsung kuterkam buah dada itu,
kuhisapi dan kujilati putingnya.
Erangan Lolita makin keras terdengar memenuhi ruangan kamarku. "Enak.. Oom.. Ahh.." desah Lolita
sambil tangannya semakin menekan
kepalaku ke buah dadanya. Kujilati dan kuhisap buah dada
keponakanku yang cantik ini
sepuasnya. Sesekali sambil menjilati
puting buah dada Lolita, aku melirik
ke arah Andi, suaminya. Setelah puas memainkan buah
dadanya, aku membetulkan kembali
tali gaun malam Lolita. Kemudian aku
bangkit berdiri di depannya. Kulepas
dengan segera semua pakaianku
sehingga aku telanjang bulat berdiri di depan Lolita, istri Andi yang cantik itu.
Tampak mata Lolita sedikit terbelalak
melihat ukuran kemaluanku yang
mencuat di depan wajahnya. "Seperti ini yang kamu inginkan Lit?"
tanyaku.
"Iya Oom.. Lita suka yang besar dan
keras seperti ini.." jawabnya. Tangannya yang halus mulai
mengocok kemaluanku perlahan. "Kamu dengar Andi? Istrimu suka
kontol yang besar dan keras. Kamu
harus rajin berobat ya." kataku
melantur.
"Sekarang aku akan minta istrimu
menghisapi kontolku. Kamu tidak keberatan khan?" tanyaku lagi.
"Gimana keberatan nggak? Kalau
keberatan kita sudahi saja" kataku
lagi karena Andi belum menjawab.
"Nggak Oom" jawabnya lirih.
"Bagus kalau gitu." kataku sambil tersenyum menatapnya.
"Ayo sayang.. Kamu mulai hisap
barang Oom ya" kataku pada Lolita,
sambil menaikkan kedua tanganku ke
atas pinggang. Rasa hangat mulai
kurasakan ketika kemaluanku mulai masuk menyesaki mulut Lolita
keponakanku ini. Kuremas-remas rambutnya dengan
sebelah tanganku, sementara
tanganku yang lain masih berkacak
pinggang. "Ups.. Sorry suamimu nggak kelihatan
tuh" kataku sambil menarik keluar
kemaluanku dari mulut Lolita. Akupun
memposisikan tubuhku agak
menyamping, sehingga Andi dapat
melihat dengan jelas adegan kami. "Gimana Di? Sekarang kelihatan khan?
Kamu bisa lihat istrimu dengan jelas?"
tanyaku retoris. Kembali kujejalkan
kemaluanku dalam mulut Lolita.
Lolitapun dengan bernafsu
mengulumi dan menjilati kemaluanku. Aku masih berkacak pinggang sambil
sesekali menoleh ke arah Andi. Dia
tampak berusaha menahan
perasaannya melihat istrinya tercinta
sedang menyedoti kemaluan besar
lelaki lain. Sementara Lolita masih dengan penuh gairah memainkan
kemaluanku dengan mulutnya yang
hangat. "Ehmm.. Ehm.." desah Lolita sambil
terus menghisapi kemaluanku. Jemari tangannya yang lentik dengan
perlahan mengocok batang
kemaluanku. Memang kasihan
keponakanku ini. Sebagai wanita
cantik sudah beberapa lama ia tidak
bisa menyalurkan hasrat seksualnya. "Di, aku akan keluar di dalam mulut
istrimu. Is it Ok? " tanyaku lagi
menggoda Andi. Dia masih asyik menatap istrinya yang
sedang mengulum kemaluanku
dengan penuh nafsu. Kupandang
kebawah, dan tampak wajah cantik
Lolita yang sedang mengulumi
kejantananku. Tangannya yang halus sedang mengusap-usap buah
zakarku. "Look at me.." perintahku. Lolitapun melihat ke atas dan
menatapku dengan tatapan nakal
menggoda. Tak tahan lagi aku
dibuatnya. "Ahh.." erangku ketika aku
berejakulasi di dalam mulut Lolita,
keponakanku yang cantik ini. Lolita
dengan rakus menelan semua cairan
ejakulasiku, dan menjilati sampai
bersih yang masih tertinggal di kemaluanku. "Luar biasa istrimu, Di. Enak sekali
hisapannya" kataku sambil tersenyum
puas. Kulihat Lolita sedang mengusap
bibirnya dengan tisu, dan kemudian
beranjak ke toilet. ***** Akupun kemudian beristirahat
sejenak sambil menonton TV di sofa. "Gimana Di.. Kamu bisa ereksi nggak
lihat yang tadi?" tanyaku.
"Sedikit Oom.." jawabnya.
"Ya.. Semoga cepet sembuh deh..
Sayang lho istri cantik nggak dipakai"
jawabku. Lolita kemudian duduk disampingku
di sofa. Tak lama kamipun telah
kembali berciuman. Tangannya yang
halus kembali dengan lembut
mengusap-usap barang
kesukaannya. "Lita hisap lagi ya Oom.. Biar cepet
naik" pintanya.
"Minta izin dulu dong sama suamimu"
jawabku menggoda.
"Iih Oom Robert.. Mas Andi.. Boleh ya
aku hisap kontolnya Oom Robert?" tanyanya manja. Andi yang duduk di sampingku hanya
mengangguk pasrah. Lolitapun
kemudian berlutut di depanku, dan
mulai melingkarkan bibirnya di kepala
kemaluanku. Karena kemaluanku
belum ereksi, maka hampir semuanya masuk dikulum mulut keponakanku
ini. Tak lama, kemaluankupun semakin
membangkak, dan mulut Lolitapun
mulai kewalahan menampung
besarnya kejantananku ini. Setelah
penuh ereksi, hanya sepertiga bagian
saja yang bisa dikulumnya, sementara tangannya mulai mengocok sisanya. "Di... rasanya sekarang waktunya aku
menyetubuhi istrimu. Kamu nggak
berubah pikiran khan?" tanyaku
sambil tersenyum. Andipun menggelengkan kepalanya.
Langsung kutarik tubuh Lolita, dan
diapun berdiri untuk kemudian
duduk dipangkuanku. Kuciumi lagi
bibirnya, dan kemudian kuturunkan
tali gaun malamnya. "Ayo buka saja sayang" kataku. Lolitapun kemudian membuka gaun
malamnya, sehingga hanya celana
dalam G-string yang masih
dikenakannya. Kembali dia menaiki
tubuhku, dan diapun menyibakkan
celana dalamnya untuk kemudian mengarahkan liang vaginanya ke
kemaluanku. Rasa nikmat menjalar ketika secara
perlahan liang vagina Lolita menjepit
ketat kejantananku. Kemudian
Lolitapun dengan bernafsu memompa
tubuhnya di atas kemaluanku. "Ohh.. Ohh.. Fuck me.. Fuck me.." racau
Lolita menahan nikmat. Kupegang pinggangnya yang
ramping, dan kupompa juga
tubuhnya dari bawah. Suara sofa yang
bergoyang serta erangan Lolita
membuatku makin terangsang.
Sesekali kuhisap buah dadanya dan kuremas-remas pantatnya. "Oohh.. Faster.. Faster.. Ya.. That's
right.. Oohh.. Faster.. Faster.." erang
Lolita mendaki bukit kepuasan birahi. Tak lama tubuh Lolitapun mengejang
dan iapun menjerit ketika
mendapatkan orgasmenya. Akupun
semakin cepat memompa tubuhnya
yang masih menggelinjang-gelinjang
dalam dekapanku, dan akhirnya akupun menyemburkan ejakulasiku
dalam vagina keponakan cantikku ini. ***** "Terimakasih ya Oom" kata Lolita
manis. Tampak wajahnya bersinar-
sinar setelah melampiaskan nafsunya
yang terpendam selama ini.
"Ya.. Sama-sama," jawabku
"Nanti kalau ke Surabaya lagi, mampir tengokin Lita lagi ya"
"OK deh.. Kamu juga kalau ke Jakarta
telepon Oom ya". Lolita kemudian berpaling ke
suaminya. "Thanks ya Mas Andi... mau memenuhi
kebutuhan Lita" kata Lolita sambil
mencium mesra Andi suaminya. Merekapun kemudian pamit pulang. "Permisi ya Oom. Terimakasih atas
bantuannya"
"Ok Andi. Semoga cepat sembuh ya.
Sorry lho ya, kalau kata-kataku
menyinggung kamu. Maksudku sih
supaya kamu bisa lebih terangsang dan cepat sembuh"
"Iya Oom. Andi ngerti kok" Setelah mereka pulang, akupun
kemudian menuju kamar mandi untuk
mandi air hangat. Enak sekali tubuhku
saat itu. Setelah menahan birahiku
yang belum tuntas saat bermesraan
dengan sekretaris Pak Joko pagi tadi, akhirnya kesampaian juga
bersetubuh dengan wanita secantik
Lolita. Sayang besok aku sudah harus
kembali ke Jakarta karena ada
meeting dengan klienku. Tetapi
mungkin aku akan sering mengunjungi kantor cabangku di
Surabaya ini. Tentu saja ini adalah
alasan yang paling baik untuk
mengunjungi Lolita, keponakanku
yang cantik.

<<Back to Cerita Dewasa
HHome

TOP-RATING

©2026 Benoze Corporation