watch sexy videos at nza-vids!
KING OF SEX
Bookmark Now!!
http://kingsex.jw.lt

Papaku nakal
Not Found404; Not Found

Perkenalkan namaku Vina, usiaku 16
tahun. Aku sekarang duduk di kelas
II SMU di Medan. Aku punya
pengalaman pertama merengkuh
surga dunia. Tetapi semua itu
kulakukan dengan papa tiriku. Pengalamanku ini sebagai referensi
buat teman-teman yang lain. Aku tahu
kalau perbuatan ini salah, tetapi aku
tidak tahu bagaimana
menghentikannya. Baiklah, ceritaku
begini. Suatu hari aku mendapat pengalaman
yang tentunya baru untuk gadis
seukuranku. Oya, aku gadis
keturunan Cina dan Pakistan.
Sehingga wajar saja kulitku terlihat
putih bersih dan satu lagi, ditaburi dengan bulu-bulu halus di sekujur
tubuh yang tentu saja sangat disukai
lelaki. Kata teman-teman, aku ini
cantik lho. Memang siang ini cuacanya cukup
panas, satu persatu pakaian yang
menempel di tubuhku kulepas.
Kuakui, kendati masih ABG tetapi aku
memiliki tubuh yang lumayan montok.
Bila melihat lekuk-lekuk tubuh ini tentu saja mengundang jakun pria
manapun untuk tersedak. Dengan
rambut kemerah-merahan dan tinggi
167 cm, aku tampak dewasa. Sekilas,
siapapun mungkin tidak percaya
kalau akuadalah seorang pelajar. Apalagi bila memakai pakaian casual
kegemaranku. Mungkin karena
pertumbuhan yang begitu cepat atau
memang sudah keturunan, entahlah.
Tetapi yang jelas cukup mempesona,
wajah oval dengan leher jenjang, uh.. entahlah. Pagi tadi sebelum berangkat ke
sekolah, seperti biasanya aku
berpamitan dengan kedua
orangtuaku. Cium pipi kiri dan kanan
adalah rutinitas dan menjadi tradisi di
keluarga ini. Tetapi yang menjadi perhatianku siang ini adalah ciuman
Papa. Seusai sarapan pagi, ketika
Mama beranjak menuju dapur, aku
terlebih dahulu mencium pipi Papa.
Papa Robi (begitu namanya) bukan
mencium pipiku saja, tetapi bibirku juga. Seketika itu, aku sempat terpaku
sejenak. Entah karena terkejut untuk
menolak atau menerima perlakukan
itu, aku sendiri tidak tahu. Papa Robi sudah setahun ini menjadi
Papa tiriku. Sebelumnya, Mama sempat
menjanda tiga tahun. Karena aku dan
kedua adikku masih butuh seorang
ayah, Mama akhirnya menikah lagi.
Papa Robi memang termasuk pria tampan. Usianya pun baru 38 tahun.
Teman-teman sekolahku banyak
yang cerita kalau aku bersukur punya
Papa Robi.
"Salam ya sama Papa kamu.." ledek
teman-temanku. Aku sendiri sebenarnya sedikit grogi
kalau berdua dengan Papa. Tetapi
dengan kasih sayang dan pengertian
layaknya seorang teman, Papa pandai
mengambil hatiku. Hingga akhirnya
aku sangat akrab dengan Papa, bahkan terkadang kelewat manja.
Tetapi Mama tidak pernah protes,
malah dia tampak bahagia melihat
keakraban kami. Tetapi ciuman Papa tadi pagi sungguh
diluar dugaanku. Aku memang
terkadang sering melendot sama Papa
atau duduk sangat dekat ketika
menonton TV. Tetapi ciumannya itu
lho. Aku masih ingat ketika bibir Papa menyentuh bibir tipisku. Walau hanya
sekejab, tetapi cukup membuat bulu
kudukku merinding bila
membayangkannya. Mungkin karena
aku belum pernah memiliki
pengalaman dicium lawan jenis, sehingga aku begitu terkesima.
"Ah, mungkin Papa nggak sengaja.."
pikirku. Esok paginya seusai sarapan, aku
mencoba untuk melupakan kejadian
kemarin. Tetapi ketika aku
memberikan ciuman ke Mama, Papa
beranjak dari tempat duduknya dan
menuju kamar. Mau tidak mau kuikuti Papa ke kamar. Aku pun segera
berjinjit untuk mencium pipi Papa.
Respon Papa pun kulihat biasa saja.
Dengan sedikit membungkukkan
tubuh atletisnya, Papa menerima
ciumanku. Tetapi setelah kucium kedua pipinya, tiba-tiba Papa
mendaratkan bibirnya ke bibirku.
Serr.., darahku seketika berdesir.
Apalagi bulu-bulu kasarnya
bergesekan dengan bibir atasku.
Tetapi entah kenapa aku menerimanya, kubiarkan Papa
mengulum lembut bibirku. Hembusan
nafas Papa Robi menerpa wajahku.
Hampir satu menit kubiarkan Papa
menikmati bibirku.
"Baik-baik di sekolah ya.., pulang sekolah jangan keluyuran..!" begitu
yang kudengar dari Papa. Sejak kejadian itu, hubungan kami
malah semakin dekat saja. Keakraban
ini kunikmati sekali. Aku sudah dapat
merasakan nikmatnya ciuman
seorang lelaki, kendati itu dilakukan
Papa tiriku, begitu yang tersirat dalam pikiranku. Darahku berdesir hangat
bila kulit kami bersentuhan. Begitulah, setiap berangkat sekolah,
ciuman ala Papa menjadi tradisi. Tetapi
itu rahasia kami berdua saja. Bahkan
pernah satu hari, ketika Mama di
dapur, aku dan Papa berciuman di
meja makan. Malah aku sudah berani memberikan perlawanan. Lidah Papa
yang masuk ke rongga mulutku
langsung kuhisap. Papa juga begitu.
Kalau tidak memikirkan Mama yang
berada di dapur, mungkin kami akan
melakukannya lebih panas lagi. Hari ini cuaca cukup panas. Aku
mengambil inisiatif untuk mandi.
Kebetulan aku hanya sendirian di
rumah. Mama membawa kedua
adikku liburan ke luar kota karena
lagi liburan sekolah. Dengan hanya mengenakan handuk putih, aku
sekenanya menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan tubuh, aku
merasakan segar di tubuhku. Begitu hendak masuk kamar, tiba-tiba
satu suara yang cukup akrab di
telingaku menyebut namaku. "Vin.. Vin.., Papa pulang.." ujar lelaki
yang ternyata Papaku.
"Kok cepat pulangnya Pa..?" tanyaku
heran sambil mengambil baju dari
lemari.
"Iya nih, Papa capek.." jawab papa dari luar.
"Kamu masak apa..?" tanya papa
sambil masuk ke kamarku.
Aku sempat kaget juga. Ternyata
pintu belum dikunci. Tetapi aku coba
tenang-tenang saja. Handuk yang melilit di tubuhku tadinya kedodoran,
aku ketatkan lagi. Kemudian
membalikkan tubuh. Papa rupanya
sudah tiduran di ranjangku. "Ada deh..," ucapku sambil
memandang Papa dengan senyuman.
"Ada deh itu apa..?" tanya Papa lagi
sambil membetulkan posisi tubuhnya
dan memandang ke arahku.
"Memangnya kenapa Pa..?" tanyaku lagi sedikit bercanda.
"Nggak ada racunnya kan..?"
candanya.
"Ada, tapi kecil-kecil.." ujarku
menyambut canda Papa.
"Kalau gitu, Papa bisa mati dong.." ujarnya sambil berdiri menghadap ke
arahku.
Aku sedikit gelagapan, karena posisi
Papa tepat di depanku.
"Kalau Papa mati, gimana..?" tanya
Papa lagi. Aku sempat terdiam mendengar
pertanyaan itu.
"Lho.., kok kamu diam, jawab dong..!"
tanya Papa sambil menggenggam
kedua tanganku yang sedang
memegang handuk. Aku kembali terdiam. Aku tidak tahu
harus bagaimana. Bukan jawabannya
yang membuatku diam, tetapi
keberadaan kami di kamar ini. Apalagi
kondisiku setengah bugil. Belum lagi
terjawab, tangan kanan Papa memegang daguku, sementara
sebelah lagi tetap menggenggam
tanganku dengan hangat. Ia angkat
daguku dan aku menengadah ke
wajahnya. Aku diam saja
diperlakukan begini. Kulihat pancaran mata Papa begitu tenangnya. Lalu
kepalanya perlahan turun dan
mengecup bibirku. Cukup lama Papa
mengulum bibir merahku. Perlahan
tetapi pasti, aku mulai gelisah.
Birahiku mulai terusik. Tanpa kusadari kuikuti saja keindahan ini. Nafsu remajaku mulai keluar ketika
tangan kiri Papa menyentuh
payudaraku dan melakukan remasan
kecil. Tidak hanya bibirku yang
dijamah bibir tebal Papa. Leher jenjang
yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu pun tidak luput dari sentuhan Papa.
Bibir itu kemudian berpindah ke
telingaku.
"Pa.." kataku ketika lidah Papa masuk
dan menggelitik telingaku. Papa kemudian membaringkan
tubuhku di atas kasur empuk.
"Pa.. nanti ketahuan Mama.." sebutku
mencoba mengingatkan Mama.
Tetapi Papa diam saja, sambil
menindih tubuhku, bibirku dikecupnya lagi. Tidak lama, handuk
yang melilit di tubuhku
disingkapkannya.
"Vina, tubuh kamu sangat harum.."
bisik Papa lembut sambil
mencampakkan guling ke bawah. Dalam posisi ini, Papa tidak puas-
puasnya memandang tubuhku. Bulu
halus yang membalut kulitku semakin
meningkatkan nafsunya. Apalagi
begitu pandangannya mengarah ke
payudaraku. "Kamu udah punya pacar, Vin..?"
tanya Papa di telingaku.
Aku hanya menggeleng pasrah. Papa kemudian membelai dadaku
dengan lembut sekali. Seolah-olah
menemukan mainan baru, Papa
mencium pinggiran payudaraku.
"Uuhh..," desahku ketika bulu kumis
yang dipotong pendek itu menyentuh dadaku, sementara tangan Papa
mengelus pahaku yang putih. Puting
susu yang masih merah itu kemudian
dikulum.
"Pa.. oohh.." desahku lagi. "Pa.. nanti Mamm.." belum selesai
kubicara, bibir Papa dengan sigap
kembali mengulum bibirku.
"Papa sayang Vina.." kata Papa sambil
memandangku.
Sekali lagi aku hanya terdiam. Tetapi sewaktu Papa mencium bibirku, aku
tidak diam. Dengan panasnya kami
saling memagut. Saat ini kami sudah
tidak memikirkan status lagi. Puas
mengecup putingku, bibir Papa pun
turun ke perut dan berlabuh di selangkangan. Papa memang pintar
membuatku terlena. Aku semakin
terhanyut ketika bibir itu mencium
kemaluanku. Lidahnya kemudian
mencoba menerobos masuk. Nikmat
sekali rasanya. Tubuhku pun mengejang dan merasakan ada
sesuatu yang mengalir cepat, siap
untuk dimuntahkan.
"Ohh, ohh.." desahku panjang. Papa rupanya tahu maniku keluar, lalu
dia mengambil posisi bersimpuh di
sebelahku. Lalu mengarahkan
tanganku ke batang kemaluannya.
Kaget juga aku melihat batang
kemaluannya Papa, besar dan tegang. Dengan mata yang sedikit tertutup,
aku menggenggamnya dengan
kedua tanganku. Setan yang ada di
tubuh kami seakan-akan kompromi.
Tanpa sungkan aku pun mengulum
benda itu ketika Papa mengarahkannya ke mulutku.
"Terus Vin.., oh.. nikmatnya.."
gumamnya.
Seperti berpengalaman, aku pun
menikmati permainan ini. Benda itu
keluar masuk dalam mulutku. Sesekali kuhisap dengan kuat dan
menggigitnya lembut. Tidak hanya
Papa yang merasakan kenikmatan,
aku pun merasakan hal serupa.
Tangan Papa mempermainkan kedua
putingku dengan tangannya. Karena birahi yang tidak tertahankan,
Papa akhirnya mengambil posisi di
atas tubuhku sambil mencium bibirku
dengan ganas. Kemudian
kejantanannya Papa menempel
lembut di selangkanganku dan mencoba menekan. Kedua kakiku
direntangkannya untuk
mempermudah batang kemaluannya
masuk. Perlahan-lahan kepala penis
itu menyeruak masuk menembus
selaput dinding vaginaku. "Sakit.. pa.." ujarku.
"Tenang Sayang, kita nikmati saja.."
jawabnya.
Pantat Papa dengan lembut menekan,
sehingga penis yang berukuran 17
cm dan berdiameter 3 cm itu mulai tenggelam keseluruhan. Papa melakukan ayunan-ayunan lagi.
Kuakui, Papa memang cukup lihai.
Perasaan sakit akhirnya berganti
nikmat. Baru kali ini aku merasakan
kenikmatan yang tiada taranya.
Pantas orang bilang surga dunia. Aku mengimbangi kenikmatan ini dengan
menggoyang-goyangkan pantatku.
"Terus Vin, ya.. seperti itu.." sebut
Papa sambil mempercepat dorongan
penisnya.
"Papa.. ohh.., ohh.." renguhku karena sudah tidak tahan lagi.
Seketika itu juga darahku mengalir
cepat, segumpal cairan putih meleleh
di bibir vaginaku. Kutarik leher Papa
hingga pundaknya kugigit keras.
Papa semakin terangsang rupanya. Dengan perkasa dikuasainya diriku. Vagina yang sudah basah
berulangkali diterobos penis papa.
Tidak jarang payudaraku diremas dan
putingku dihisap. Rambutku pun
dijambak Papa. Birahiku kembali
memuncak. Selama tiga menit kami melakukan gaya konvensional ini.
Tidak banyak variasi yang dilakukan
Papa. Mungkin karena baru pertama
kali, dia takut menyakitiku. Kenikmatan ini semakin tidak
tertahankan ketika kami berganti
gaya. Dengan posisi 69, Papa masih
perkasa. Penis Papa dengan tanpa
kendali keluar masuk vaginaku.
"Nikmat Vin..? Ohh.. uhh.." tanyanya. Terus terang, gaya ini lebih nikmat
dari sebelumnya. Berulangkali aku
melenguh dan mendesah dibuatnya.
"Pa.. Vina nggak tahan.." katakuku
ditengah terjangan Papa.
"Sa.. sa.. bar Sayang.., ta.. ta.. han dulu.." ucap Papa terpatah-patah.
Tetapi aku sudah tidak kuat lagi, dan
untuk ketiga kalinya aku
mengeluarkan mani kembali.
"Okhh.. Ohkk.. hh..!" teriakku.
Lututku seketika lemas dan aku tertelungkup di ranjang. Dengan
posisi telungkup di ranjang membuat
Papa semakin belingsatan. Papa
semakin kuat menekan penisnya. Aku
memberikan ruang dengan
mengangkat pantatku sedikit ke atas. Tidak berapa lama dia pun keluar
juga.
"Okhh.. Ohh.. Ohk.." erang Papa.
Hangat rasanya ketika mani Papa
menyiram lubang vaginaku. Dengan peluh di tubuh, Papa
menindih tubuhku. Nafas kami berdua
tersengal-sengal. Sekian lama Papa
memelukku dari belakang, sementara
mataku masih terpejam merasakan
kenikmatan yang baru pertama kali kualami. Dengan penis yang masih
bersarang di vaginaku, dia mencium
lembut leherku dari belakang.
"Vin, Papa sayang Vina. Sebelum
menikahi Mamamu, Papa sudah
tertarik sama Vina.." ucap Papa sambil mengelus rambutku. Mama dan adikku, tiga hari di rumah
nenek. Selama tiga hari itu pula, aku
dan Papa mencari kepuasan bersama.
Entah setan mana yang merasuki
kami, dan juga tidak tahu sudah
berapa kali kami lakukannya. Terkadang malam hari juga, walaupun
Mama ada di rumah. Dengan alasan
menonton bola di TV, Papa
membangunkanku, yang jelas
perbuatan ini kulakukan hingga
sekarang.

<<Back to Cerita Dewasa
HHome

TOP-RATING

©2026 Benoze Corporation