watch sexy videos at nza-vids!
KING OF SEX
Bookmark Now!!
http://kingsex.jw.lt

Cucuku Dhea dan Marsha
Not Found404; Not Found

Namaku Budyanto, saat ini usiaku 63
tahun. Boleh dibilang untuk urusan
main perempuan aku pakarnya. Ini
bisa kukatakan karena pada saat
usiaku 13 tahun aku sampai
menghamili 3 temanku sekaligus. Dan di usiaku ke 17 sampai dengan 5
orang teman yang aku hamili, satu di
antaranya Winnie, seorang gadis
peranakan Belanda dan Cina yang
pada akhirnya aku terpaksa
mengawininya karena hanya dia yang ambil risiko untuk melahirkan bayi
atas kenakalanku dibanding gadis
lain. Winnie sampai memberiku 3
orang anak, tetapi selama aku
mendampinginya dalam hidupku, aku
masih juga bermain dengan perempuan sampai usiaku 50 tahun,
inipun disebabkan karena Winnie
harus tinggal di Belanda karena sakit
yang dideritanya hingga akhir
hayatnya yaitu 7 tahun yang lalu,
otomatis aku harus mendampinginya di Belanda sementara ketiga anakku
tetap di Indonesia. Kira-kira satu tahun yang lalu
petualanganku dengan perempuan
terjadi lagi, tapi kali ini orangnya
adalah yang ada hubungan darah
denganku sendiri yaitu Dhea dan
Marsha, keduanya merupakan cucuku sendiri. Satu tahun yang lalu, anakku
yang kedua mengontakku di Belanda
yang memberitahukan bahwa
kakaknya yaitu anakku yang pertama
dan istrinya mengalami
kecelakaanyang akhirnya harus meninggalkan dunia ini. Aku pun
langsung terbang ke Jakarta. Setiba di
Jakarta aku lansung menuju ke rumah
anakku, di sana aku menemukan
anakku dan istrinya telah terbujur
kaku dan kulihat Dhea dan adiknya Marsha sedang menagis meraung-
raung di depan keduajenazah itu.
Sewaktu kutinggal ke Belanda, Dhea
dan Marsha masih kecil. Setelah
peguburan jenazah kedua anakku,
atas anjuran anakku yang kedua, aku diminta untuk tinggal di Jakarta saja
dan tidak usah kembali ke Belanda,
aku harus menjaga kedua cucuku,
aku pun setuju. Sejak saat itu, aku pun
tinggal di Indonesia. Satu minggu aku sudah tinggal di
rumah almarhum anakku, dan kutahu
Dhea usianya 15 tahun (kelas 3 SMP)
sedangkan adiknya Marsha usianya
13 tahun (kelas 1 SMP) ini kutahu
karena tugasku sekarang menjaga dan mengantarkan cucuku sekolah.
Dhea sudah tumbuh menjadi anak
gadis tetapi kelakuannya agak nakal,
setiap pulang dari sekolah bukannya
belajar malah main ke temannya
sampai jam 09.00 malam baru kembali, di saat aku sudah tertidur. Suatu hari ketika Dhea pulang aku
masih terbangun, Dhea langsung
masuk kamar setelah mandi dan
berdiam di dalam kamarnya yang
membuat aku penasaran melihat
sikap Dhea, sampai di depan kamarnya sebelum kuketuk aku coba
mengintip dari lubang pintu dan aku
terkaget-kaget melihat apa yang
dilakukan Dhea di kamarnya. TV di
kamar itu menyala dimana gambarnya
film porno, sedangkan Dea sedang mengangkat roknya dan jarinya
ditusukkan ke dalam lubang
kemaluannya sendiri. Aku
mengintipnya hampir 15 menit
lamanya yang membuat aku tidak
sadar bahwa batangkemaluanku mulai mengeras dan celanaku basah.
Setelah itu kutinggalkan Dhea yang
masih onani, sedang aku pun ke
kamar untuk tidur, tapi dalam tidurku
terbayang kemaluan Dhea. Paginya aku bangun terlambat karena
mimpiku. Dhea dan Marsha sudah
berangkat sekolah naik angkutan
kota. Sore hari aku kembali setelah
mengurus surat-surat kuburan
anakku. Ketika aku masuk ke ruang keluarga, aku sempat terkejut melihat
Dhea sedang menonton TV, pikirku
tumben sore-sore Dhea ada di rumah
dan aku makin terkejut ketika aku
menghampiri Dhea, Dhea sedang
melakukan onani sementara TV yang ia tonton adalah film porno yang tadi
malam sudah dilihatnya. Dhea pun
tidak tahu kalau aku sedang
memperhatikannya dimana Dhea
sedang asyik-asyiknya onani. "Dhea... kamu lagi... ngapain?"
"Uh... kakek.. ngagetin aja... nih..."
Dhea yang kaget langsung
menutupinya dengan rok dan
memindahkan channel TV.
"Kamu kaget.. yach, kamu.. belajar begini sama siapa.. kamu ini bandel
yach.."
"Belajar dari film dan bukunya temen,
tapi Dhea.. nggak bandel loh... Kek..."
"Sini Kakek.. juga mau nonton,"
kataku sambil duduk di sebelahnya."Kakek mau nonton juga..
Kakek nggak marah sama Dea khan?"
katanya agak manja sambil melendot
di bahuku.
"Nggak... ayo pindahin channel-nya!" Gambar TV pun langsung berubah
menjadi film porno lagi. Tanpa
bergeming, Dhea asyik menatap film
panas itu sementara nafasku sudah
berubah menjadi nafsu buas dan
batang kemaluanku mulai mengeras berusaha keluar dari balik celanaku.
"Dhe... mau Kakek pangku.. nggak?"
Tanpa menoleh ke arahku Dhea
bergeser untuk dipangku. Dhea yang
sudah meloloskan celana dalamnya
merasa terganggu ketika kemaluannya yang beralaskan
roknya tersentuh batang kemaluanku
yang masih tertutup celana.
"Ah.. Kakek.. ada yang mengganjal
lubang kemaluan Dhea nih dari
bawah." "Supaya nggak ganjal, rok kamu
lepasin aja, soalnya rok kamu yang
bikin ganjal." Tiba-tiba Dhea menungging
dipangkuan melepaskan roknya,
badannya menutupi pemandanganku
ke arah TV tapi yang kulihat kini
terpampang di depan mukaku pantat
Dhea yang terbungkus kulit putih bersih dan di bawahnya tersembul
bulu-bulu tipis yang masih halus
menutupi liang kemaluannya yang
mengeluarkan aroma bau harum
melati.
"Dhea.. biar aja posisi kamu begini yach!"
"Ah.. Kakek, badan Dhea khan
nutupin Kakek... nanti Kakek nggak
lihat filmnya."
"Ah.. nggak apa-apa, Kakek lebih
suka melihat ini." Pantatnya yang montok sudah
kukenyot dan kugigit dengan mulut
dan gigiku. Tanganku yang kiri
memegangi tubuhnya supaya tetap
berdiri sedangkan jari tengah tangan
kananku kuusap lembut pada liang kemaluannya yang membuat Dhea
menegangkan tubuhnya. "Ah... Ah... ssh.. sshh..." Pelan-pelam
jari tengahku kutusukkan lebih ke
dalam lagi di lubamg kemaluannya
yang masih sangat rapat. "Aw.. aw...
aw.. sakit.. Kek..." jerit kecil Dhea.
Setelah lima menit jariku bermain di kemaluannya dan sudah agak basah,
sementara lubang kemaluannya
sudah berubah dari putih menjadi
agak merah. Kumulai memainkan
lidah ke lubang kemaluannya. Saat
lubang kemaluan itu tersentuh lidahku, aku agak kaget karena
lubang kemaluan itu selain
mengeluarkan aroma melati rasanya
pun agak manis-manis legit, lain dari
lubang kemaluan perempuan lain
yang pernah kujilat, sehingga aku berlama-lama karena aku
menikmatinya. "Argh... argh... lidah Kakek enak deh..
rasanya.. agh menyentuh memek
Dhea... Dhea jadi suka banget nih."
"Iya... Dhea, Kakek juga suka sekali
rasanya, memekmu manis banget
rasanya." Dengan rakusnya kujilati lubang
kemaluan Dhea yang manis, terlebih-
lebih ketika biji klitorisnya tersentuh
lidahku karena rupanya biang
manisnya dari biji klitorisnya. Dhea
pun jadi belingsatan dan makin menceracau tidak karuan. "Argh..
sshh.. agh... aghh... tidddaak... Kek...
uenak... buanget... Kek.. argh... agh..
sshhh..." Hampir 30 menit lamanya biji
klitoris Dhea jadi bulan-bulanan
lidahku dan limbunglah badan Dhea yang disertai cairan putih kental dan
bersih seperti lendir, mengucur deras
dari dalam lubang kemaluannya yang
langsung membasahi lubang
kemaluannya dan lidahku. Tapi
karena lendir itu lebih manis lagi rasanya dari biji klitorisnya langsung
kutelan habis tanpa tersisa dan
membasahi mukaku. "Arggghh..
aaawww... sshhh.. tolong... Kek...
eennaak... baangeeet... deh..."
Jatuhlah tubuh Dhea setelah menungging selama 30 menit
meniban tubuhku. Setelah tubuhku tertiban kuangkat
Dhea dan kududukkan di Sofa,
sementara badannya doyong ke kiri,
aku melepaskan semua pakaianku
hingga bugil dimana batang
kemaluanku sudah tegang dan mengeras dari tadi. Kemudian kedua
kaki Dhea aku lebarkan sehingga
lubang kemaluan itukembali terbuka
lebar dengan sedikit membungkuk
kutempelkan batang kemaluanku
persis di liang kemaluannya. Karena lubang kemaluannya masih sempit,
kumasukkan tiga buah jari ke lubang
kemaluannya, supaya lubang
kemaluan itu jadi lebar. Ketika jari itu
kuputar-putar, Dhea yang
memejamkan mata hanya bisa menahan rasa sakit, sesekali ia
meringis. Setelah 5 menit lubang
kemaluannya kuobok-obok dan
terlihat agak lebar, kutempelkan
batang kemaluanku tepat di lubang
kemaluannya, lalu kuberikan hentakan. Tapi karena masih agak
sempit maka hanya kepala
kemaluanku saja yang bisa masuk.
Dhea pun menjerit.
"Awh... sakit.. Kek... sakit.. banget..."
"Sabar... sayang... nanti juga enak.. deh..." Kuhentak lagi batang kemaluanku itu
supaya masuk ke lubang kemaluan
Dhea, dan baru yang ke-15 kalinya
batangan kemaluanku bisa masuk
walau hanya setengah ke lubang
kemaluan Dhea. Dhea pun 15 kali menjeritnya. "Ampun... Kek... sakit..
banget... ampun!" Karena sudah
setengah batang kemaluanku masuk,
dan mulai aku gerakan keluar-masuk
dengan perlahan, rasa sakit yang
dirasakan Dhea berubah menjadi kenikmatan.
"Kek.. Kek.. gh... gh... enak.. Kek...
terus.. Kek.. terus.. Kek... batang..
Kakek.. rasanya... sampai.. perut Dhea..
terus... Kek!"
"Tuh.. khan... benar.. kata Kakek... nggak.. sakit lagi sekarang.. jadi enak..
kan?"
Dhea hanya mengangguk, kaus yang
digunakannya kulepaskan berikut BH
merah mudanya, terlihatlah dengan
jelas payudara Dhea yang baru tumbuh tapi sudah agak membesar
dimana diselimuti kulit putih yang
mulus dan di tengahnya dihiasi puting
coklat yang juga baru tumbuh
membuatku menahan ludah. Lalu
dengan rakusnya mulutku langsung mencaplok payudara itu dan kukulum
serta kugigit yang membuat Dhea
makin belingsatan. Setelah satu jam, lubang kemaluan
Dhea kuhujam dengan batang
kemaluanku secara ganas,
terbongkarlah pertahanan Dhea yang
sangat banyak mengeluarkan cairan
lendir dari dalam lubang kemaluannya membasahi batanganku yang masih
terbenam di dalam lubang
kemaluannya disertai darah segar
yang otomatis keperawanan cucuku
Dhea telah kurusak sendiri. Dhea pun
menggeleparlalu ambruk di atas Sofa. "Agh... agh.. agh.. argh... argh... sshh...
ssshh... argh... gh.. gh... Dhea... keluar..
nih.. Kek.. aw... aw..." Lima belas menit kemudian aku pun
sampai pada puncak kenikmatan,
dimana tepat sebelum keluar aku
sempat menarik batang kemaluanku
dari lubang kemaluan Dhea dan
menyemburkan cairan kental hangat di atas perut Dhea dan aku pun
langsung ambruk meniban tubuh
Dhea. "Aw.. agh.. agh.. Dhea..
memekmu.. memang.. luar biasa,
kontol Kakek.. sampai dipelintir di
dalam memekmu...agh... kamu.. me.. memeng... hebat..." Setengah jam kemudian, dengan
terkaget aku terbangun oleh elusan
tangan lembut memegangi kontolku.
"Kakek... habis... ngapain.. Kakak
Dhea... kok... Kakak Dhea dan Kakek
telanjang... kayak habis.. mandi.. Marsha juga.. mau dong telanjang..
kayak... Kakek dan.. Kakak Dhea."
"Hah.. Marsha jangan... telanjang!"
Tapi perkataanku kalah cepat dengan
tindakannya Marsha yang langsung
melepaskan semua pakaiannya hingga Marsha pun bugil. Aku terkejut
melihat Marsha bugil dimana tubuh
anak umur 11 tahun ini kelihatan
sempurna, lubang kemaluan Marsha
yang masih gundul belum tumbuh
bulu-bulu halus tetapi payudaranya sudah mulai berkembang malah lebih
montok dari payudara Dhea. Kulit
tubuh Marsha pun lebih putih dan
mengkilat dibanding kulit tubuh Dhea,
sehingga membuat nafsu seks-ku
kembali meningkat. "Kek... Marsha kan tadi ngintip ketika
perut Kakak Dhea dimasukin sama
punya kakek.. Marsha juga mau
dong.. kata mama dan papa, kalau
Kakak Dhea dapat sesuatu pasti
Marsha juga dapat." "Oh... mama dan papa bilang begitu
yach, kamu memang mau perut kamu
dimasukin punya Kakek."
"Iya.. Kek.. Marsha mau sekali." Tanpa banyak basa-basi kusuruh
Marsha terlentang di atas karpet.
Dengan agak riang Marsha langsung
terlentang, aku duduk di sampingnya
kedua kakinya aku lebarkan
sehingga lubang kemaluannya yang gundul terlihat jelas. Kusuruh Marsha
menutup mata. "Marsha sekarang
tutup matanya yach, jangan dibuka
kalau Kakek belum suruh, nanti kalau
sakit Marsha hanyaboleh bilang sakit."
Marsha pun menuruti permintaanku. Lubang kemaluannya kuusap dengan
jari tengahku dengan lembut dan
sesekali jariku kumasukkan ke
lubang kemaluannya. Tangan kiriku
dengan buasnya telah meremas
payudaranya dan memelintir puting yang berwarna kemerahan. Marsha
mulai menggelinjang. Dia tetap
memejamkan matanya, sedang
mulutnya mulai nyerocos. "Ah... ah...
ah.. sshh.. ssh..." Kedua kakinya
disepakkan ketika jari tengahku menyentuh klitorisnya. Lidahku mulai
menjilati lubang kemaluannya karena
masih gundul, dengan leluasa lidahku
mengusapliang kemaluannya sampai
lidahku menyentuh klitorisnya.
Dikarenakan usianya lebih muda dari Dhea maka lubang kemaluan dan
klitoris Marsha rasanya belum terlalu
manis dan 10 menit kemudian
keluarlah cairan kental putih yang
rasanya masih hambar menetes
dengan derasnya dari dalam lubang kemaluannya membasahi lidahku
yang sebagian tidak kutelan karena
rasanya yang masih hambar sehingga
membasahi paha putihnya. "Ah... ah... ngeh.. ngeh... Marsha..
basah nih Kek..." Kuambil bantal Sofa
dan kuganjal di bawah pantat Marsha
sehingga lubang kemaluan itu agak
terangkat, lalu kutindih Marshadan
kutempelkan batang kemaluanku pada lubang kemaluannya yang
masih berlendir. Kuhentak batang
kemaluanku ke dalam lubang
kemaluan Marsha yang masih lebih
rapat dari lubang kemaluan Dhea.
Kuhentak berkali-kali kemaluanku sampai 25 kali baru bisa masuk
kepala kemaluanku ke lubang
kemaluan Marsha. 25 kali juga Marsha
menjerit. "Aw.. aw.. sakit.. Kek... sakit.. sekali.."
"Katanya kamu mau perutmu aku
masukin punya Kakek seperti lubang
kemaluan Kakak Dhea."
"Iya Kek... Marsha mau... Marsha tahan
aja deh sakitnya." Kepala kemaluanku yang sudah
masuk ke lubang kemaluan Marsha
kehentak sekali lagi, kali ini masuk
hampir 3/4-nya batang kemaluanku
ke lubang kemaluan Marsha, ini
karena lubang kemaluan Marsha masih licin sisa lendir yang tadi
dikeluarkannya. "Hegh... hegh...
hegh.. iya Kek sekarang Marsha
nggak sakit lagi... malah enak..
rasanya di perut Marsha ada yang
dorong-dorong... Hegh.. Hegh..." komentar Marsha ketika menahan
hentakan batang kemaluanku di
lubang kemaluannya. Setelah 30
menit lubang kemaluannya kuhujam
dengan hentakan batang
kemaluanku, meledaklah cairan kental dan tetesan darah dari lubang
kemaluan Marsha keluar dengan
derasnya yang membasahi
kemaluanku dan pahanya. Marsha
pun langsung pingsan. "Arrgh..
arrghh.. ssh... Kek... Marsha.. nggak kuat... Kek... Marsha.. mau pingsan...
nih... nggak.. ku.. kuaatt..." Pingsannya Marsha tidak membuatku
mengendorkan hentakan
kemaluanku di lubang kemaluannya
yang sudah licin, malah membuatku
makin keras menghentaknya, yang
membuatku sampai puncak yang kedua kalinya setelah yang pertama
kali di lubang kemaluannya Dhea, tapi
kali ini aku tidak sempat menarik
batang kemaluanku dari dalam
lubang kemaluan Marsha sehingga
cairan kental hangat itu kubuang di dalam perut Marsha dan setelah itu
baru kulepaskan batang kemaluanku
dari lubang kemaluan Marsha yang
masih mengeluarkan lendir. "Ah.. ah...
ser... ser... ser... jrot.. jrot.. agh... ag..
ssh... argh..." Tubuhku pun langsung ambruk di tengah Marsha yang
pingsan di atas karpet dan Dhea yang
tertidur di sofa. Satu jam kemudian
aku terbangun di saat batang
kemaluanku berasa dijilat dan ketika
aku melirik aku melihat Dhea dan Marsha sedang bergantian mengulum
batang kemaluanku dan menjilati sisa
cairan lendir tadi, kuusap kedua
kepala cucuku itu yang lalu kusuruh
keduanya mandi. "Dhea.. sudah.. sayang.. sana ajak
adikmu.. bersih-bersih dan mandi
setelah itu kita ke Mall, beli McDonal..
ayo sayang!"
"Kek.. Dhea puas deh.. lain.. kali lagi
yach Kek!" "Asyik beli McDonal.. tapi lain kali lagi
yach... Kek, perut Marsha jadi hangat..
deh.. enak.."
"Iya.. sayang.. pasti lagi.. ayo sekarang
Kakek yang mandiin." Setelah itu kami pun mandi bertiga,
sejak saat itu kedua cucuku selalu tiap
malam minta coba lagi keganasan
batang kemaluanku. Aku pun
tersenyum bangga bahwa aku
memang penakluk perempuan, walau perempuan yang aku taklukan adalah
kedua cucuku yang sekarang tinggal
bersamaku.

<<Back to Cerita Dewasa
HHome

TOP-RATING

©2026 Benoze Corporation