watch sexy videos at nza-vids!
KING OF SEX
Bookmark Now!!
http://kingsex.jw.lt

Para kuli
Not Found404; Not Found

Sudah dua jam lebih Upit menunggu
lewatnya bus jalur 6A yang biasanya
mengantarkannya pergi pulang
sekolah. Ya, hanya bus rakyat itulah
satu-satunya sarana transportasinya
dari Godean ke SMP Negeri favorit di bilangan dekat perguruan tinggi
negeri. Tapi sejauh ini, bus itu belum
nongol-nongol juga. Padahal kakinya
sudah semutan terus berdiri di depan
proyek bangunan berlantai tiga yang
rencananya untuk restoran ayam goreng terkenal dari Amerika itu. Upit
yang kelas satu dan belum sebulan ini
masuk sekolah barunya, melirik sekali
lagi jam tangannya hadiah dari
kakaknya yang kerja di Batam. Pukul
lima siang lewat sepuluh menit. Inilah arloji hadiahnya jika masuk SMP
favorit. Gadis 12 tahun bertubuh imut
tapi tampak subur itu memang pintar
dan cerdas. Tak heran jika ia mampu
menembus bangku sekolah
idamannya. Cuaca di atas langit sana benar-benar
sedang mendung. Angin bertiup
kencang, sehingga membuat rambut
panjang sepinggangnya yang lebat
tapi agak kemerahan itu berkibar-
kibar. Hembusannya yang dingin membuat gadis berkulit kuning
langsat dan berwajah ayu seperti artis
Paramitha Rusady itu memeluk tas
barunya erat-erat untuk mengusir
hawa dinginnya. Berulang kali bus-
bus kota lewat, tapi jalur yang ditunggu-tunggunya tak kunjung
lewat juga. Sejenak Upit menghela
nafasnya sambil menebarkan
pandangannya ke seluruh calon
penumpang yang berjejalan senasib
dengannya. Lalu menengok ke belakang, memperhatikan pagar seng
bergelombang yang membatasi
dengan lokasi pembangunan proyek
tersebut. Tampak puluhan pekerjanya
yang tengah meneruskan
kegiatannya, walaupun cuaca sedang jelas hendak hujan deras. Hilir mudik
kendaraan yang padat kian membuat
kegelisahannya memuncak. Mendadak hujan turun dengan
derasnya. Spontan saja, Upit dan tiga
orang calon penumpang bus kota
yang di antaranya dua pasang anak
SMA dan seorang bapak-bapak secara
bersamaan numpang berteduh masuk ke lokasi proyek yang pintunya
memang terbuka dan di sana terdapat
bangku kayu serta teduh oleh tritisan
beton. Sedangkan belasan orang
lainnya memilih berteduh di depan
toko fotocopy yang berada di sebelah bangunan proyek itu. "Numpang
berteduh ya, Pak!" pinta ijin bapak-
bapak itu disahuti teriakan "iya" dari
beberapa kuli bangunan yang turut
pula menghentikan kerjanya lalu
berteduh di dalam bangunan proyek. Tapi dalam beberapa menit saja,
bapak tua itu telah berlari keluar
sambil berterima kasih pada para kuli
bangunan setelah melihat bus kota
yang ditunggunya lewat. Tak sampai lima menit kedua anak
SMA itupun mendapatkan bus mereka.
Kini Upit sendirian duduk menggigil
kedinginan.
"Aduh..!" kaget Upit yang tersadar
dari lamunannya itu tatkala sebuah bus yang ditunggunya lewat dan
berlalu kencang. Tampak wajah
gelisah dan menyesalnya karena
melamun.
"Mau pakai 6A, ya Dik?" tanya seorang
kuli yang masih muda belia telah berdiri di sampingnya Upit yang
tengah mondar-mandir di depan
bangku.
Upit sempat kaget, lalu tersenyum
manis sekali.
"Iya Mas. Duh, busnya malah bablas. Gimana nih?!"
"Tenang saja, jalur 6A-kan sampai jam
tujuh malam. Tunggu saja di sini, ya!"
ujarnya sambil masuk ke dalam. Upit hanya mengangguk ramah, lalu
duduk kembali di bangkunya, yang
sesekali waktu dia menengok ke arah
timur, kalau-kalau terlihat bus jalur 6A
lewat. Setengah jam lewat. Tak ada
tanda-tanda bus itu lewat. Upit melihat ke dalam gedung yang gelap itu,
tampak sekitar lima puluh kuli sedang
istirahat. Sebagian asyik ngobrol,
lainnya merokok atau mandi di bawah
siraman air hujan. Lainnya terlihat
terus-menerus memperhatikan Upit. Perasaan tak enak mulai menyelimuti
hatinya. Belum sempat otaknya berpikir keras
untuk dapat keluar dari lokasi proyek,
mendadak sepasang tangan yang
kuat dan kokoh telah mendekap
mulut dan memiting lehernya. Upit
kaget dan berontak. Tapi tenaga kuli kasar itu sangatlah kuat, apalagi kuli
lainnya mengangkat kedua kaki Upit
untuk segera dibawanya masuk ke
dalam bangunan proyek. "Diam anak manis! Atau kami gorok
lehermu ini, hmm!" ancam kuli yang
telanjang dada yang menyekapnya itu
sambil menempelkan sebilah belati
tajam di lehernya, sedangkan puluhan
kuli lainnya tertawa-tawa senang penuh nafsu birahi memandangi
kemolekan tubuh Upit yang sintal
padat berisi itu. Upit hanya
mengagguk-angguk diam penuh
suasana takut yang mencekam. Tak
berapa lama gadis cantik itu sesenggukan. Tapi apalah daya, suara
hujan deras telah meredam tangis
sesenggukannya. Sedangkan tawa-
tawa lima puluh enam kuli usia 16
sampai yang tertua 45 tahun itu kian
girang dan bergema sembari mereka menanggalkan pakaiannya masing-
masing. Upit melotot melihatnya.
"Jangan macam-macam kamu, ya.
Hih!" ancamnya lagi sambil
membanting tubuh Upit di atas
hamparan tenda deklit oranye yang
sengaja digelar untuk Upit. Tas sekolahnya diserobot dan dilempar ke
pojok. Upit tampak menggigil
ketakutan. Wajahnya pucat pasi
menyaksikan puluhan kuli itu berdiri
mengelilingi dirinya membentuk
formasi lingkaran yang rapat. "Tolong.. tolong ampuni saya Pak..
jangan sakiti aku.. kumohon.. toloong,
ouh.. jangan sakiti aku.." pinta Upit
merengek-rengek histeris sambil
berlutut menyembah-nyembah
mereka. Tapi puluhan kuli itu hanya tertawa
ngakak sambil menuding-nuding ke
arah Upit, sedangkan lainnya mulai
menyocok-ngocok batang zakarnya
masing-masing.
"Buka semua bajumu, anak manis! Ayo buka semua dan menarilah
dengan erotisnya. Ayo lakukan,
cepaat!" perintah yang berbadan
paling kekar dan usia sekitar 30 tahun
itu yang tampaknya adalah
mandornya sambil mencambuk tubuh Upit dengan ikat pinggang kulitnya.
"Cter!"
"Akhh.. aduh! Sakit, Pak.. akhh..!" jerit
kesakitan punggungnya yang kena
cambuk sabuk.
Tiga kali lagi mandor itu mencabuk dada, paha dan betisnya. Sakit
sungguh minta ampun. Upit menjerit-
jerit sejadinya sambil meraung-raung
minta ampun dan menangis keras.
Tapi toh suaranya tak dapat
mengalahkan suara hujan. "Cepat lakukan perintahku, anak
manja! Hih!" sahut mandor sambil
melecutkan sabuknya lagi ke arah
dada Upit yang memang tumbuhnya
belum seberapa besarnya, bisa
dikatakan, buah dadanya Upit baru sebesar tutup teko poci. Upit kembali
meraung-raung.
"Iya.. iya Pak.. tolong, jangan
dicambuki.. sakiit.. ouh.. ooh.. huk..
huuh.." ucap Upit yang telah basah
wajahnya dengan air mata. Ucapannya itu disahuti oleh gelak
tawa para kuli yang sudah tak sabar
lagi ingin menikmati makan sore
mereka.
"Aduuh, udah ngaceng nih, buruan
deh lepas bajunya." "Iya, nggak tahan lagi nih, mau
kumuntahkan kemananya yaa?"
Perlahan Upit beranjak berdiri dengan
isak tangisnya.
"Sambil menari, ayo cepat.. atau
kucambuk lagi?" desak mandor mengancam.
Upit hanya mengangguk sambil
menyadari bahwa batang-batang
zakar mereka telah ereksi semua
dengan kencangnya. Upit perlahan mulai menari sekenanya
sambil satu persatu memreteli kancing
seragam SMP-nya, sedangkan para
kuli memberikan ilustrasi musik lewat
mulut dan memukul-mukulkan ember
atau besi. Riuh tapi berirama dangdut. Sorak-sorai mewarnai jatuhnya
bajunya. Upit kian pucat. Kini gadis itu
mulai melepas rok birunya. Kain itu
pun jatuh ke bawah dengan
sendirinya. Kini Upit tinggal hanya
memakai BH dan CD serta sepatu. Sepatu dilepas. Upit lama sekali tak
melepas-lepas BH dan CD-nya. Dengan
galak, mandor mencabuk
punggungnya.
"Cter!"
"Auukhh.. ouhk..!" jerit Upit melepas BH dan CD-nya dengan buru-buru.
Tentu saja dia melakukannya dengan
menari erotis sekenanya. Terlihat jelas
bahwa Upit belum memiliki rambut
kemaluan. Masih halus mulus serta
rapat. Tepuk tangan riuh sekali memberikan aplaus. Sedetik kemudian, rambut Upit
dijambak untuk dipaksa berlutut di
depan mandor. Upit nurut saja.
"Ayo dikulum, dilumat-lumat di
disedoot.. kencang sekali, lakukan!"
perintahnya menyodorkan batang zakarnya ke arah mulut Upit.
Upit dengan sesenggukan melakukan
perintahnya dengan wajah jijik.
"Asyik.. terus, lebih kuat dan
kencang..!" perintahnya mengajari
juga untuk mengocok-ngocok batang zakar mandor.
Upit dengan lahap terus menerus
menyedot-nyedot batang zakarnya
mandor yang sangat keasyikan.
Seketika zakar itu memang kian ereksi
tegangnya. Bahkan mandor menyodok-nyodokkan batang
zakarnya ke dalam mulut Upit hingga
gadis itu nyaris muntah-muntah
karena batang zakar itu masuk
sampai ke kerongkongannya. Di belakang Upit dua kuli mendekat
sambil jongkok dan masing-masing
meremas-remas kedua belah buah
dadanya Upit sembari pula mempintir-
plintir dan menarik-narik kencang
puting-puting susunya itu. "Ouuhk.. hmmk.. aauuhk.. hmmk..!"
menggerinjal-gerinjal mulut Upit yang
masih menyedot-nyedot zakar
mandor.
Tak berapa lama spermanya muncrat
di dalam mulut Upit. "Creeot.. cret.. croot..!"
"Telan semua spermanya, bersihkan
zakarku sampai tak tersisa!" perintah
galak sambil menjambak rambut Upit.
Gadis itu menurut pasrah. Sperma
ditelannya habis sambil menjilati lepotan air mani itu di ukung zakar
mandor sampai bersih. Mandor mundur. Kini Upit kembali
melakukan oral seks terhadap zakar
kuli kedua. Dalam sejam Upit telah
menelan sperma lima puluh enam kuli!
Tampak sekali Upit yang
kekenyangkan sperma itu muntah- muntah sejadinya. Tapi dengan galak
mandor kembali mencambuknya.
Tubuh bugil Upit berguling-guling di
atas deklit sambil dicambuki omandor.
Kini dengan ganas, mereka mulai
menusuk-nusukkan zakarnya ke dalam vagina sempit Upit. Gadis itu
terlihat menjerit-jerit kesakitan saat
tubuhnya digilir untuk diperkosa
bergantian. Sperma-sperma
berlepotan di vagina dan anusnya
yang oleh sebagian mereka juga melakukan sodomi dan selebihnya
membuang spermanya di sekujur
tubuhnya Upit. Upit benar-benar tak
tahan lagi. Tiga jam kemudian gadis
itu pingsan. Dasar kuli rakus, mereka
masih menggagahinya. Rata-rata memang melakukan persetubuhan itu
sebanyak tiga kali. Darah mengucur
deras dari vagina Upit yang malang.

<<Back to Cerita Dewasa
HHome

TOP-RATING

©2026 Benoze Corporation