watch sexy videos at nza-vids!
KING OF SEX
Bookmark Now!!
http://kingsex.jw.lt

Misteri Malam Jum'at
Not Found404; Not Found

Aku terbangun dari tidurku, tanganku
terasa kesemutan dan kaku, kakiku
seperti susah digerakkan. Kucoba
menggerakkan tanganku, ternyata
tanganku terikat erat kebelakang,
kucoba melepaskan diri dengan menggerakkan pergelangan tangan,
rasa nyeri menyelimuti seluruh
pergelangan tanganku, aku
berkesimpulan, tanganku diikat
dengan tali pramuka putih. Sejenak aku berusaha melihat ke
sekujur tubuhku di tengah kegelapan,
aku melihat tali putih itu melilit
melingkar di payudaraku, yang aku
tahu pasti, aku masih berbusana
lengkap, blus berkerah shanghai warna hitam tanpa lengan dengan
kancing kancing warna perak yang
berbaris dari ujung leherku hingga
kebawah, terlihat kontras karena ada
tali putih melintas atau tepatnya meliliti
payudaraku bagian atas dan bawah. Rok 10 cm dari lutut masih
kukenakan, lalu kurasakan sepatu
masih membungkus di kakiku, sepatu
pemberian kekasihku, warnanya
hitam, haknya 7 cm dengan model
seperti pantofel dengan tali tipis dari karet yang melintang di pergelangan
kaki. Kucoba gerakkan kakiku, oh
ternyata terikat erat jadi satu. Sadarku
mulai pulih sedikit demi sedikit, aku
sedang terduduk, kucoba ayunkan
kakiku, "Ough!" Ternyata kakiku terikat dan kemudian
diikatkan kembali ke kaki kursi,
praktis tak bisa kugerakkan saking
kencangnya ikatanku.
"Ugh.! ugh.!"
Aku mencoba menggerakkan badanku, tidak berhasil. Tubuhku
terikat melalui dada ke lenganku,
kemudian diikatkan pula ke sandaran
kursi, jadi aku terikat dulu lalu
diikatkan ke kursi. (bayangkan iklan
close-up edisi penculikan, seperti itulah aku,) Lalu aku mencoba berteriak minta
tolong, yang kudengar suaraku
adalah,
"Mmh, mmh,"
Ternyata mulutku disumbat dengan
lakban, dari kegelapan dan daya rekatnya aku tahu ini lakban perak
yang sering aku lihat dalam film-film.
Seribu pertanyaan menyerbu
benakku,. Aku berusaha
mengumpulkan ingatanku atas
kejadian yang terjadi sebelumnya. "Ada apa dengan diriku?" hatiku
bertanya-tanya sambil berpikir keras.
Oh, baru kuingat sekarang, tadi malam
aku baru saja menyelesaikan tugasku
di hotel hingga jam sebelas malam.
Papi (suamiku) sedang bertugas ke Singapore, baru saja berangkat
paginya, dia baru akan kembali
minggu depan. Kuingat-ingat lagi apa yang terjadi,
malam itu aku menjamu teman-teman
(tamu lebih tepatnya) dari sebuah
stasiun TV, tepatnya sebuah rumah
produksi yang krunya kebetulan
mengadakan 'shooting' di kotaku dan menginap di hotel tempatku bekerja.
Kami bercanda riang malam itu, lalu
aku bersama-sama mereka
melanjutkan dengan dugem ke Hard
Rock Café di Kuta. Kemudian
ingatanku terbayang saat GMku yang hari itu tidak masuk karena karena
tensinya agak tinggi, mengirim SMS
untuk langsung pulang saja jam
sebelas malam dan terus menerus
memastikan bahwa aku segera
pulang. "Nggak baik cewek kaya kamu masih
ada di hotel sampai lewat jam
sebelas!"
Begitu pesannya di SMSnya ditengah
malam, hampir jam 24, yang aku tidak
hiraukan karena kupikir aku sedang seru-serunya ngobrol dengan orang-
orang TV itu. Kembali kuaktifkan
ingatanku, belum pulih seutuhnya,
yang aku ketahui kini, sesadarku dari
tidurku, aku tahu bahwa aku sedang
duduk terikat lengkap hingga sedikitpun tidak bisa bergerak. Oh, aku mulai ingat lagi saat itu aku
membawa kru TV itu ke Hard Rock
Cafe. Mengapa tidak ada dalam
memoriku kalau aku sampai di sana?
Aku ingat lagi, aku mengemudikan
Suzuki Vitaraku DK 369 MV. Mampir ke pompa bensin beserta mereka 4 pria
dan 2 wanita selain aku. Sampai di situ
saja aku ingat, setelah itu aku tidak
ingat apa-apa, tahu tahu aku sudah
berada di tempat segelap ini dengan
penerangan 5 watt dalam keadaan terikat, kupastikan aku berada di
sebuah gudang, entah di mana, oh.
Aku diculik..!! Seingatku saat mengisi
bensin, tiba-tiba ada saputangan
membekap mulut dan hidungku,
kelihatannya datang dari kursi belakangku. Lalu aku tak sadarkan
diri.
"Eh Mbak Mila, udah bangun yaa?"
suara itu muncul dari kegelapan
membuyarkan lamunanku.
Sosok yang tinggi besar itu hanya berbicara tepat disebelah lampu 5
watt itu, dan aku tak kuasa
memandangnya karena silau.
"Srett.." lakban di mulutku dibukanya,.
"Denis! Apa yang kamu lakukan
padaku, Lepaskan aku! Biarkan aku pulang," teriakku.
"Hey, Dee .mmhh!! ..mmhh!!" kembali
Denis menyumpal mulutku dengan
lakban baru sehingga aku tak sempat
memanggil lagi namanya.
"Istirahat dulu ya Mbak, nanti kita mulai jam 5 subuh!" katanya seraya
memadamkan lampu yang 5 watt itu
sehingga aku hanyut dalam
kegelapan rasa bersalah ini begitu
menyelimuti diri yang terikat erat ini. Terbayang GM ku yang tengah sakit
masih berusaha mengingatkan aku
untuk segera pulang karena telah
larut malam melalui SMSnya, dan aku
begitu sombongnya mengacuhkan
perintah dan perhatiannya padaku. "Maafkan aku Pa'."
Seruku dalam hati yang penuh sesal
ini. Tak terasa air mataku berlinang,
Papa, biasa aku memanggil GMku
sangat perhatian dan menunjukkan
sayangnya padaku. Entah kenapa, malam itu aku merasa ingin
memberontak dari ketergantunganku
padanya, sekarang tinggal sesal yang
ada. Malam semakin larut ada bunyi
jam kukuk, yang berbunyi dua kali,
oh, masih jam 2 dini hari rupanya, lamanya waktu berjalan, rasa lelah,
dingin, dan takut kembali menyelimuti
diri yang terikat ini, tanpa terasa dalam
keadaan terduduk dan terikat ini aku
kembali terlelap. Suasana pagi itu masih gelap,
kurasakan tubuhku agak lebih
nyaman, dan aku masih merasakan
merasakan busana berbahan satinku
itu masih membungkus tubuhku. Oh
rupanya aku dalam posisi terbaring lagi kucari tanganku, kuharap yang
kualami tadi hanya mimpi, ternyata
tidak.
Berusaha aku gerakkan tanganku,
terikat erat jadi satu ke atas dan
kelihatannya diikatkan ke ujung yang permanen, mungkin kursi yang tadi
mereka dudukkan aku terikat. Masih
dengan tali pramuka yang sama.
Mulutku penuh dengan kain-kain,
masih tersumbat, tapi rasanya tidak
dengan lakban tetapi rasanya bibir ini sedikit terbuka serta ada sapu tangan
yang melintas diantara bibirku yang
menyumpal mulutku, yang ternyata
ujung simpulnya diikatkan ke
tengkukku.
"Mmhh.. mmhh..!!" Sia sia usahaku bersuara. Kakiku terasa tidak terikat
lagi jadi satu, tapi, ugh! tetap tak bisa
kugerakkan. Perlahan kucoba
mengangkat kepalaku, menggeleng-
geleng sedikit kepalaku agar
rambutku yang panjang tidak mengganggu penglihatanku, oh
kulihat kakiku mengangkang lebar
dan terikat pada ujungnya masing-
masing.
"Mmmhh..," desahku begitu aku
sadari bahwa kini aku terikat dan terbaring di atas sebuah meja
panjang.
"Di mana Denis,. yang tadi sempat
muncul..!" belum habis rasa ingin tahu
dalam suasana misterius ini kemudian,
"OK, Take One! Action!!" suara seseorang bersamaan dengan
menyalanya beberapa lampu sorot
yang menghujam wajah dan tubuhku. "Mmhh, mmhh,!! seruku dengan
sekuat-kuatnya ingin meronta namun
tidak ada gerakan berarti yang bisa
aku lakukan. Sementara kulihat
seseorang memanggul kamera
menjelajahi tubuhku melalui kameranya dari ujung kedua kakiku,
perlahan-lahan hingga sampai di
wajahku, kemudian dia menyorot
lama diwajahku sebelum menyoroti
tanganku yang terikat jadi satu ke
atas. "Cut,!!" teriakan itu terdengar lagi.
"Sret..," gelap pemandanganku
karena mataku dilakban juga, aku
pasrah, entah apa lagi yang akan
dilakukan padaku. Aku rasakan
tubuhku menjadi miring, sepertinya mereka mengangkat meja di bagian
kepalaku, dimana tanganku yang
terikat berujung. "Take Two! Ready? Action!!" aba-aba
itu terdengar lagi.
Aku juga rasakan celana dalamku
disobek, mungkin dengan gunting
atau pisau lalu kurasakan ada lidah
yang menjelajah tubuhku, mulai dari sepatuku, menjalar ke betis kiriku,
betis kananku, naik pelan-pean ke
lututku, basah yang terasa membuat
geli dan sedikit mulai terangsang. Aku
berusaha menahannya, kubayangkan
kengerian akan keberadaanku yang diculik, terikat erat tanpa tahu apa
yang akan terjadi. Ketika lidah itu tiba
di paha, langsung naik pelan-pelan ke
selangkanganku, rasa takut dan
ngeriku hilang dan tiba tiba ada
rangsangan yang semakin membara, dibenakku terbayang Papa dengan
kekhawatirannya dalam sakitnya.
Kurasa pipiku membasah menangis,
karena kutahu dia pasti sangat cemas
mencari kabar berita dariku. "Aaghh,!" kurasakan batang penis
yang besar masuk kedalam vaginaku
secara paksa, aku tidak membiarkan
diriku orgasme karena diriku
diselimuti rasa sesal yang mendalam
terhadap Papa. Sejenak kurasa mereka melepaskan sapu tangan
yang menyumpal mulutku. Tak pelak
suaraku lepas "Aauw, aghh, saa.. kit!!"
seruku sementara kelihatannya
pemerkosaku semakin bersemangat,
sehingga vaginaku mulai basah karena cairan dariku keluar.
Digerakkannyalah batang penisnya
mundur, maju, mundur, maju, dengan
lembut, tubuhku mulai menegang,
irama penisnya menjadi semakin cepat
kurasakan wajahnya mendekat ke leherku, kepipiku dan bibirku, oohh!
Dia ingin mencumbuiku, kucoba
menghindar dengan menggerakkan
kepalaku, menggelengkan kepalaku.
Tak terhindari, dia mulai mengulum
bibirku namun aku tidak sudi bereaksi terhadap ciuman itu.
Lalu kurasakan tangan-tangan yang
meraba-raba dan meremas
payudaraku yang masih terbungkus
busana dan BH. Kemudian tangan itu
bergerak kearah leherku, tamatlah aku dia ingin mencekikku sampai
mati,
"Aah, jangan mas, jangan bunuh
aku,!"
"Bwaa.. ha.. haa!" suara itu begitu
ramai, mungkin lebih dari 5 orang yang tadinya kucurigai, yang ada
disitu. Tangan itu menekan keras
tombol kancing keduaku.
"Auw.., sakit!!" hardikku.
Ada tangan yang lain membekap
mulutku dengan kuat, "Mmhh, mmhh!" seruku sementara kancing
keduaku kembali ditekan kuat
dengan jempolnya. Kemudian tangan-
tangan itu membuka kancing bajuku
satu per satu, yang lain membuka
BHku yang kebetulan dibuka dari depan. Bersamaan itu penis yang
menghujam di vaginaku di cabutnya
dengan kasar.
"Argh..!!" teriakku. Angin terasa membelai tubuhku,
dengan mata tertutup hanya itu yang
bisa memastikan bahwa blus ku
sudah terbuka semua namun masih
menempel di tubuhku karena
terikatnya payudara dan lenganku. "Ahh.. ahh.." desahku saat bibir dan
lidah entah siapa oknum jahanam itu
yang mengisap-isap puting, serta
menjilat-jilat payudaraku sehingga
terasa geli dan pertahananku
akhirnya memudar karena ada rasa kenikmatan yang lebih berhasil
mendominasi perasaan sesal yang
masih tinggal. Di dalam kegelapan
akibat mata yang tertutup lakban ini
aku rasa ada orang lain lagi yang
mungkin mendapat gilirannya langsung memasukkan batang
penisnya ke vaginaku melakukannya
dengan sangat kasar sehingga rasa
sakit yag tiada tara kembali
membuatku tak sadar diri. Entah berapa lama aku tak sadarkan
diri. Saat aku siuman, aku rasa hari
sudah agak siang, mungkin sekitar
jam 15.00. Karena kudengar lagi
suara Papa yang bak teriakan di atas
gunung "Mila.., Mila.." Oohh, Papa mencariku, kucoba
membuka mataku, gudang tempat
aku disekap sedikit lebih terang walau
masih gelap dan sumpek, kulihat
lampu sinar HPku berkelip-kelip. Ingin
aku menggapainya namun aku sadari tanganku terbelenggu tak berdaya,
mulutku kembali disumbat dengan
lakban, dan pakaianku telah lengkap
dan kelihatannya utuh. Namun keadaan kali ini lebih
mengenaskan, aku masih terikat
seperti pertama kali aku sadari,
namun tidak di kursi atau di atas meja
tetapi mereka menggantungkan
diriku dalam ikatanku yang di payudaraku ini entah
menggantungkan kemana, sehingga
tubuhku akan terayun-ayun bila saja
aku meronta-ronta. Jarak ke bawah
sekiraku adalah 3 meter.
"Oh, Papaa.. Aku takut jatuh!" di sudut lain ada pemandangan mengenaskan.
"Ough..," kudengar suara erangan itu,
aku kenal dengan suaranya, ada
cahaya kamera yang menghujam
tubuhnya, oh, itu Maya, kolegaku
yang terkenal paling sexy di hotelku. Bagaimana bisa Maya terperangkap
oleh mereka? Tak habis pertanyaan
dari benakku. Aku lihat Maya, dengan
blus kerah shanghai berwarna merah
berkancing merah juga yang berbaris
rapi ke leher, dan rok hitam, serta sepatu kerjanya yang dihiasi tali tipis
di pergelangan kakinya, dalam
kondisi yang serupa, terikat
tangannya ke punggung dengan tali
rafia kuning meliliti payudaranya dari
atas dan bawahnya sehingga menyembul, kakinya juga terikat
seperti diriku. Nasib Maya tidak
berbeda sedikitpun dengan diriku, oh
aku meronta-ronta, amarah ini begitu
kuat sehingga tubuhku kembali
terayun kencang. "Jahanam kamu, jahanam!!"
gumamku. Kulihat Maya pingsan, namun masih
saja menjadi bulan-bulanan mereka
para pemerkosa. Dua orang dari
mereka yang kini bertopeng
kemudian menghidupkan televisi
yang sengaja mereka pasang digudang itu. Oohh! aku melihat diriku
disana dalam keadaan tak berdaya
menjadi bulan-bulanan mereka.
"Mbak Mila, kalau nanti kami lepaskan
Mbak, jangan lapor polisi dan jangan
sekali-kali mengadukan ini, pokoknya begitu kami tahu Mbak melanggar,
hmm ini akan kami siarkan secara
nasional dalam konteks sinetron, atau
akan kami upload ke situs-situs
dewasa di seluruh dunia. "Bwaa ha..
ha.. ha..!!" ancam salah stu dari mereka.
"Dan bilang juga sama Mbak Maya
ya.."
"Uh, mmhh!!" hanya itu yang keluar
dari mulutku ini.
"Papaa.. Papaa, tolong aku, lepaskan aku dari sini Paa,!!" hanya itu saja
harapku agar Papa bisa mencoba
mendeteksi keberadaanku, karena
aku ingat nomor HPku yang satu lagi
aku bawa jadi mungkin Papa bisa
lacak lewat Location Data Services. Rasanya hari sudah kembali malam,
kulihat Maya yang terikat tak berdaya
itu juga digantung persis seperti
keadaan diriku, mataku kembali
mencari-cari para penculik dan
pemerkosa kami. Tidak kutemui, dari putaran waktu; aku menyadari kalau
mereka kemungkinan sudah check
out dan kembali ke Jakarta
meninggalkan kami dalam keadaan
seperti ini, aku tertidur dalam keadaan
tergantung sementara kelihatannya Maya juga. Sudah empat hari rasanya kami diculik
dan disekap. Ketegangan yang begitu
tinggi disertai rasa lapar, serta sakit
yang beruntun mulai pergelangan
kaki, tangan, serta maag yang belum
diisi. Kulihat Maya, oh dia terjaga, tidak ada yang bisa kami komunikasikan
kecuali saling pandang dan saling
tatap keberadaan masing-masing
yang sungguh mengenaskan.
"May," ingin aku menyapanya namun
hanya mmhh, yang terdengar; demikian juga Maya, kami cuma
berharap Papa atau siapa saja bisa
menemukan kami dalam keberadaan
seperti ini entah kapan

<<Back to Cerita Dewasa
HHome

TOP-RATING

©2026 Benoze Corporation