watch sexy videos at nza-vids!
KING OF SEX
Bookmark Now!!
http://kingsex.jw.lt

Bandot tengik
Not Found404; Not Found

Krisis moneter rupanya telah meluluh
lantakkan ekonomi bangsa. Semua
orang tahu hal itu. Tetapi yang paling
menderita adalah rakyat kecil. Hal ini
juga menimpa keluargaku. Sebelum
krismon, suamiku adalah seorang pengawas bangunan pada suatu
perusahaan kontraktor. Tetapi begitu
badai krismon mengamuk, robohlah
seluruh bangunan ekonomi rumah
tanggaku. Kenapa? Karena kontraktor
terbelit dengan hutang yang menggunung. Bank relasinya ambruk
terkena likuiditas. Akibatnya kami
sekeluarga harus pulang,
meninggalkan rumah kontrakan
perusahaan. Pulang ke desa, itulah
keputusan yang tidak dapat dihindari. Anak-anak terpaksa berhenti sekolah.
Untuk makan sehari-hari, suami
terpaksa jadi tukang batu untuk
pembangunan kecil-kecilan, suatu
pekerjaan yang kurang pas bagi
seorang lulusan politeknik jurusan teknik sipil. Tapi semuanya tidak
penting kecuali satu; bagaimana perut
orang serumah tetap terisi setiap hari. Sehingga ketika Pak Sumardi, "orang
sukses" di Jakarta pulang ke desa
kami, dan menawarkan kepadaku
untuk dikirim sebagai TKW, suamiku
menyetujuinya. Namun aku pribadi
sebenarnya agak berat meninggalkan suami dan dua anakku yang masih
kecil-kecil. Satu di SD kelas satu dan
kakaknya SD kelas dua. Tapi kerja
apalah yang dapat diperoleh seorang
jebolan akademi sekretaris dan
manajemen semester ketiga seperti aku. Pernah memang, suatu hari,
seorang menawariku bekerja di panti
pijat dengan gaji pokok pertama Rp.
600.000 per bulan (30 hari kerja per
bulan), belum terhitung bonus dari
perusahaan dan tips dari tamu. Barangkali postur tubuhku yang
semampai, wajah yang cukup cantik
(suamiku juga cakep loh) dianggap
cukup dapat menarik para hidung
belang. Kulitku yang putih,
membungkus otot-otot tubuh yang sintal dan gempal berisi, diyakini
dapat menggaet langganan panti pijat
lebih banyak. Belum lagi buah
dadaku; berbentuk kerucut dengan
konsistensi yang masih kencang (di
saat aku bersanggama buah dada ini selalu menjadi mainan suami), tentu
akan menyenangkan kalau giliran si
pemijat yang justru ganti dipijati oleh
tamunya. Tentu yang dipijat bukan hanya kaki
dan tangan, tetapi buah dada, vulva,
dan yang lain-lainnya. Diajak gulat di
atas tempat tidur? Pasti aku akan
reaktif dan agresif berkat senam
aerobik yang kulakukan setiap pagi sewaktu masih tinggal di rumah
kontrakan. Sudahlah, semua orang
tahu sendiri kelanjutan lakon ini.
Belum cukup dapat menggambarkan
profilku? Lihat saja artis Meriam Bellina
(maaf kalau aku jadikan bandingan), itu artis yang tiap malam minum
kapsul yang bikin suaminya
terangsang secara "luar biasa". Kalau
diprosentasi profil aku kira-kira 80%
mirip artis yang tetap sintal dan cantik
itu. Cuma kalau soal buah dada, aku yakin masih montok punyaku. Namun
semua orang pasti tahu, menjadi
tukang pijat di malam hari dari jam
18:00 sampai 24:00 pada hakikatnya
adalah menjadi pelacur terselubung.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menakut-nakuti atau menghalangi
mereka yang ingin menjadi TKW di
luar negeri. Tidak sama sekali. Aku
sekedar ingin menceriterakan
pengalamanku, yang semoga tidak
akan pernah dialami oleh orang lain, kecuali aku. Biarlah hal itu menjadi
catatan kenangan hidupku sendiri.
Baiklah kumulai saja. Pengalaman menjadi TKW, "dipaksa
melayani bandot tengik". Setelah dua
minggu aku berada di rumah Pakde
Mardi, akhirnya semua urusan selesai.
Hari Sabtu jam 18:30 aku akan
diberangkatkan ke Philipina sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Aku tidak
tahu bagaimana liku-liku pengurusan
visa, ijin kerja dan "tetek-bengek" lain
yang kabarnya ruwet tersebut. Yang
aku tahu, aku memberi Pakde Mardi
uang sebanyak Rp 300.000, katanya untuk membayar biaya paspor dan
lain-lainnya. Biaya pesawat,
pemondokan dan sebagainya akan
dibayar dulu oleh pihak PT pengerah
jasa tenaga kerja dan akan aku bayar
secara mencicil dari potongan gaji kelak setelah mulai kerja. Pakde Mardi
mengatakan bahwa hari Sabtu aku
akan berangkat dari rumah pada pagi
jam 10:00, karena Pakde mau
mengantarkanku putar-putar dulu
keliling Jakarta. Setelah berpamitan dengan seisi rumah, Bude Mardi,
anaknya, dan lain-lainya. Aku
berangkat dengan mobil yang disetir
sendiri oleh Pakde. Aku duduk di
samping Pakde di depan. Dari rumah
rupanya aku tidak terus dibawa ke Bandara Sukarno-Hatta (apalagi
waktu berangkat pesawatnya masih 8
jam lagi). Aku diajak turun waktu mobil
diberhentikan di halaman parkir Mall
Mangga Dua.
"Min, ayo turun dulu, Pakde mau
belikan kamu sedikit bekal."
"Ah, sudah Pakde, tidak usah repot- repot, Pakde saja silakan, aku nunggu
di mobil saja."
Tetapi Pakde dengan isyarat tangan
yang siap menuntun berkata, "Ayo,
manut aku, jangan menolak."
Terpaksa aku ikut turun. Selama di pasar aku digandeng diajak berputar-
putar mengitari hampir seluruh
bangunan pasar. Mula-mula aku
diajak ke los penjual bahan pakaian
jadi, di situ aku dibelikan rok warna
merah yang bagus, harganya sekitar Rp 250 ribu, suatu harga yang bagi
aku sebagai orang yang sedang
prihatin, sangat mahal. Kecuali itu aku
juga dibelikan arloji wanita, seharga
Rp 200 ribu. Tentunya aku menolak
waktu barang-barang dibeli itu akan diperuntukkan untukku, tetapi
rasanya aku tidak berdaya, apalagi
barang tersebut setelah dimasukkan
tas, aku juga yang harus membawa.
Dan terakhir, aku diajak makan
direstoran yang cukup mewah dengan aneka macam hidangan baik
makanan Indonesia maupun
internasional (masakan China, Korea
dan sebagainya). Pembaca tahu apa yang aku makan;
nasi soto ayam, itu saja. Habis,
bagaimana aku dapat makan
hidangan yang lebih dari itu. Bukan
soal bahwa nantinya Pakde yang
akan membayar, tetapi karena rasa sependeritaan dengan suami dan
anak-anak aku yang tiap hari hanya
makan nasi dengan garam saja. Ora
kolu, istilahnya dalam bahasa Jawa
(rasa tidak mampu menelan). Kira-kira
jam satu siang, aku keluar dari mall. Kembali Pakde menyetir, dan aku
duduk di sampingnya. Baru kurang
lebih setengah jam mobil berjalan,
Pakde berkata,
"Min, kowe ninggali aku, yoo..?"
aku terkejut. "Ninggali menopo Pakde..?" (memberi
tinggalan apa).
"Ya, ini kalau kamu mau ya.. Min,
Pakde ingin menidurimu."
"Blaarr.." rasanya sebuah petir keras
sekali menyambar kepalaku. Benarkah yang tadi aku dengar?
Sambil berdebar, aku memberanikan
diri untuk bertanya,
"Maksud Pakde bagaimana?"
"Yaa itu tadi, aku ingin menidurimu,
sebentar saja." (Mooddiaar.. awak mami, teriak
batinku. Tidak salah yang aku dengar
tadi). Dunia sekitar rasanya jadi gelap.
Sungguh, siapa akan menyangka
bahwa Pakde yang tadinya kukenal
sebagai orangtua, yang dua bulan lalu datang ke desaku mengajakku
berangkat sebagai TKW ini adalah
"BANDOT TENGIK" yang akan
mencicipi tubuhku. Siapa akan
menduga bahwa orangtua yang di
depan isteri dan anaknya terkesan alim ini adalah "HIDUNG BELANG" yang
bernafsu binatang. Siapa yang akan
curiga bahwa "BAJINGAN BUSUK" ini
akan membeli tubuhku dengan
hadiah yang dibeli di Mall Mangga Dua
tadi. Rasanya aku ingin berteriak keras-
keras biar semua orang di jalan itu
mendengar. Tapi tidak bisa. Suaraku
tidak keluar. Sebaliknya aku cuma
menunduk, menangis "nggu-
guk" (tersedu-sedu) dengan rintihan lirih, dan air mata yang mulai
mengucur deras. Aku tidak tahu
dimana pikiranku dan bagaimana
harus menjawabnya, sampai ketika
Pakde menyapaku,
"Gimana Min, mau ya Min, sebentar saja.. nggak apa-apa, tidak sakit
kok..?"
Huwaah, maling edan tenan, teriak
hatiku. Bukan masalah tidak sakit, tapi
ini kan tubuh manusia, bukan
manekin atau boneka, kurang ajar benar "Bandot" ini, pikirku. Aku jadi
bingung, mau menjawab iya, jelas aku
akan dipompa, digenjot dan dienjot-
enjot seperti mainan enjot-enjotan
atau ditunggangi seperti kuda balap
yang dikendalikan oleh joki "Bajingan Tengik" ini. Dengan berpegangan
buah dadaku, pasti dia akan
memperlakukanku seperti kuda balap
yang membawanya ke surga
kenikmatan, sementara aku terhantar
ke neraka laknat. Dia pasti akan menciumi seluruh tubuhku, menjilati
pahaku yang putih, dan mengecupi
serta meremas-remas buah dadaku
yang masih kencang. Dia juga akan
mendekap, melahap, mengguling-
gulingkan tubuhku, juga mengocok dan memompa kemaluanku sampai
ludes, habis-habisan, menyentorkan
air mani sebanyak-banyaknya ke
liang kemaluanku seperti tukang
bensin mengisikan bensin ke tangki
mobil. Tetapi.. kalau aku menolak.. kalau aku
tidak mau.. bagaimana nasibku.
Ibaratnya, aku ini, dari ujung kaki
sampai ke ubun-ubun sudah berada
ditangan "Bandot" ini. Atau ibarat
orang berada di tepi jurang dengan tebing tinggi; aku tinggal pilih, di
dorong, jatuh dan mati karena
terhempas di dasar jurang, atau
kupegang tangan "Bandot" ini untuk
minta diselamatkan. Sungguh suatu
pilihan yang rumit. Kalau aku menolak bagaimana kalau dia meminta kembali
biaya pembelian tiket dan lain-lain
yang telah dikeluarkannya.
Bagaimana kalau aku tidak (dan pasti
tidak mungkin) mampu membayar
semua itu, lalu aku dijual ke seorang konglomerat hidung belang yang
sanggup membeli tubuh dan berikut
kemaluanku berapa saja harganya.
Aku tambah bingung dan tercenung.
"Mau ya Min, tokh.. hanya sebentar
saja." Aku tidak menjawab kecuali tangisku yang tambah "ngguguk",
disertai keluarnya air mata yang
tambah deras. Tetapi "Badot" ini
menangkap ke-"diaman"-ku ini
sebagai peng-"iya"-an. Bukankah
diam tanda setuju. Ini aku ketahui karena mobil mulai berjalan pelan
sedikit menepi mencari sesuatu.
Sesuatu itu adalah Hotel. Benar juga.
Mobil berhenti di depan suatu hotel
yang tidak terlalu besar. "Bandot" itu keluar dulu menuju ke
meja resepsionis, dan membayar biaya
kamar. Aku merasa seperti seorang
pesakitan yang akan dihukum mati
karena telah melakukan kejahatan
luar biasa. Aku turun dari mobil. Dengan digandeng, aku menuju
kamar hotel yang telah dipesan
"Bandot Tengik" ini. Siang itu suasana
hotel terlihat sepi, tidak terlihat lalu
lalangnya tamu. Sampai di depan
kamar Pak "Bandot" segera membuka kamar. Tetapi aku tidak segera
menyusul. Aku terhenti di depan
kamar. Kakiku terasa kaku, badan
dingin semua. Jantung berdebar,
sementara nafas rasanya mau
berhenti. Sungguh aku jadi sangat takut sekali. Serasa mau dimasukkan
kamar dengan kursi listrik untuk
menghukum penjahat kaliber kakap.
Tanpa terasa, kencingku mulai keluar
membasahi kaki. Melihat aku tidak
juga masuk kamar, "Bandot" itu keluar, memegang lenganku dan
menariknya masuk ke kamar. Kini aku
berada dibelakang pintu, namun tetap
saja tangan dan kakiku kaku, seperti
orang kedinginan sehabis kehujanan
di jalan. Kemudian terdengar bunyi "klik", "Bandot" itu mengunci kamar.
Tapi suara itu di telinga terdengar
seperti suara pistol yang dikokang
untuk siap ditembakkan.
Aku masih berdiri mematung di
belakang pintu, sementara Pakde
Mardi alias "Bandot" Tengik" itu mulai
melepaskan pakaiannya satu demi
satu. Kini dia sudah telanjang bulat di
depanku. Dengan sudut mataku, kuamati sekujur tubuhnya.
Perawakan agak pendek, dengan
kepala sedikit botak dan rambut
keriting tebal, mengingatkan wajah
Pak Hikam, Menteri Ristek (maaf ini
hanya sekedar perbandingan fisik saja, tanpa maksud apa-apa), namun
dengan kesan wajah yang lebih tua.
Umur "Bandot" Tengik" ini kutaksir
sudah lebih dari 53 tahun. Dadanya
ditutupi rambut lebat, mulai bawah
leher, dada terus sampai di atas pangkal kemaluannya. Konon kata
orang, digumuli dengan orang
dengan rambut di tubuh begini akan
memberi rasa geli bercampur nikmat.
Namun karena yang ada di
hadapanku ini adalah seorang pemerkosa, aku merasa akan
diperkosa oleh monyet besar atau
gorilla. Kemaluannya yang akan
segera dihujamkan ke liang
kemaluanku panjangnya biasa saja,
tetapi bentuknya besar dengan warna hitam kemerahan. Apa batang
kemaluan sebesar alu (penumbuk
padi) ini tidak akan mengkoyak-
koyak liang kemaluanku? Mudah-
mudahan tidak. Kepala bayi saja bisa
lewat apalagi kemaluan laki-laki, begitu pikirku. Kini "Bandot Tengik" ini mulai
menciumi, melumat bibirku. Kasar
sekali. Satu persatu pakaianku
dilepaskan. Entah kenapa aku tetap
pasif diam dan menurut saja. Sekarang
dalam keadaan bugil aku berada dipelukan "Bandot Tua" itu. Sambil
mendesakkan bibirnya ke bibirku,
badannya mendorong tubuhku ke
belakang mepet ke tembok, sehingga
tekanan bibir dan badannya terasa
kuat sekali. Lalu batang kemaluannya mulai menggelitik kemaluanku.
Pangkal kemaluan itu ditekan-
tekankan, ada reaksi dari
kemaluanku. Bungkem rapat-rapat.
Seperti mulutku yang tetap rapat
meskipun bibir "Bandot Tengik" menekan sambil diputar-putar di atas
bibirku. Saat gelegak nafsu "Bandot
Tengik" ini mulai meningkat, bibirku
digigit dengan gemasnya. "Aduh Pak,
sakit.. aduh.. jangan Pak!" Ciumannya
kini menuju ke bawah, leher, daerah belakang telinga, terus ke bawah, di
antara buah dada. Tiba-tiba
ciumannya dilepaskan. Dia
menyempatkan mengamati buah
dadaku. "Susumu hebat, Min," (Buah
dadaku memang indah, besar, kenyal dan berbentuk kerucut. Di sekitar
puting susu yang coklat kehitaman
terlihat semburat urat darah kebiruan
muda yang seolah terukir di atas
"bola" porselin yang putih. Kata
suamiku, setiap kali melihat buah dadaku, batang kemaluannya
langsung ereksi. Batang kemaluan itu
baru mau "tidur" kembali setelah
isinya dimuntahkan ke lubang
kemaluanku, melewati persetubuhan
yang panjang, mengasyikkan dan penuh nikmat). Kini, bibir "Bandot Tengik" ini
dibenamkan di antara kedua buah
dadaku. Mencium ke kiri dan ke
kanan bergantian. Lalu pentil buah
dadaku mulai dihisap-hisap. Mulutnya
lebih masuk lagi, sepertinya buah dadaku mau ditelan saja. "Hii.. hh, hii.."
gumamnya sambil menggigit buah
dadaku dengan geramnya, rupanya
gemas sekali dia merasakan
ranumnya buah kebaggaan suamiku
tersebut. "Hiyung.. aduuh.. Pak.. sakit, sakit sekali.. Pak.. sudah.. Pak.." aku
hanya bisa mengaduh lirih. Kini
serangannya merembet ke bawah.
Perut atas, pusar, diciumi, digigit-gigit
dengan rakusnya. Terus.. terus ke
bawah lagi.. sampai di bukit kemaluanku. "Bandot Tua" ini
rupanya sangat terangsang melihat
kemaluanku yang metutuk
(mencembung) ke depan seperti roti
kokis dengan rambut di sekitar klitoris
yang rimbun. Sebab setelah dijilati sebentar, bibir kemaluanku sempat
digigit dengan gemas. "Aduh..!" aku
tersentak karena sakit. Lalu pahaku dipeluk satu persatu,
dicium, digigit. Kalau aku mengaduh,
baru gigitan itu dilepaskan. Bangsat!
Rakus benar, setan laknat ini.
Demikian umpatku dalam hati. Setelah
forepplay ini dianggap cukup, badanku ditarik dan direbahkan
dengan paksa ke atas kasur. Dengan
kakiku yang terjulur ke bawah, dia
menunggangiku. Persis seperti joki
kuda balap yang siap memacu kuda
balapnya (lihat tulisanku bagian pertama). Batang kemaluannya siap
dimasukkan ke lubang kemaluanku.
Tetapi bibir lubang kemaluanku
rupanya mengkerut (berkontraksi)
menutup rapat. Ini akibat sikapku
yang me-"reject" (menolak) batang kemaluan asing itu, sehingga timbul
Vaginismus. (Vaginismus adalah
lubang kemaluan yang mengalami
spasmus, yaitu merapat kuat menutup
lubangnya sehingga tidak bisa
dimasuki batang kemaluan). Gagal, tetapi tidak putus asa. Kini dia
menciumiku lagi, kasar dan penuh
nafsu. Buah dadaku dipegang dengan
kedua telapak tangannya, diperas
kuat-kuat, digigit mulai pangkal
puting dadaku terus sampai setengah buah dada masuk ke mulutnya. "Uhh..
uhh.." suara kegemasan Pak Mardi. Rupanya nafsu syahwatnya sudah
sampai ke ubun-ubun, sementara
batang kemaluannya masih parkir di
luar lubang kemaluanku. "Aduhh..
aduh.. Pak.. sakit sekali Pak!" teriakku
lirih penuh iba. Tetapi akibat kesakitanku itu "kontrol" sarafku ke
lubang kemaluan lepas. Lubang
kemaluanku sedikit menganga, dan
cairannya mulai menetes keluar.
Merasa batang kemaluannya terbasahi
cairan lubang kemaluanku, "Bandot" ini terlihat lega. Batang kemaluannya
coba dimasukkan lagi secara paksa ke
lubang kemaluanku. "Bluss.." masuk
seluruhnya meskipun aku jadi
kesakitan karena bibir lubang
kemaluan luar dan dalamnya terlipat- lipat dan terseret ke dalam akibat
desakan batang kemaluan. Kini
"Bandot" itu seperti menemukan
kunci, kunci untuk membuka lubang
kemaluanku yang "metutuk", yaitu
dengan menyakiti. Karena itu diulangi kekurang-ajarannya dengan
menggigit buah dadaku, kiri dan
kanan bergantian. Sakit.. sekali.
Meskipun tidak sampai berdarah,
akibat gigitannya terasa perih karena
menyisakan jelas (bekas, pingget)di kulitku. Sekarang dia mulai menikmati
lubang kemaluanku. Pantatnya mulai
dinaik-turunkan dengan kuatnya
terutama pada saat diturunkan, seolah
batang kemaluannya mau membobol
lubang kemaluanku. Dug.. dug.. dug.. Setiap menghentakkan kemaluannya,
tangannya meremas buah dadaku
sekeras-kerasnya. "Nurut saja Min,
biar sama-sama enak, ya.. toh.."
Buiihh, anjing tua keparat, gumamku
dalam hati. Ya, aku heran kenapa aku merasa tidak punya kekuatan apa-
apa. Lemah, lunglai, mungkin karena
mengalami syok mental. (Padahal
dengan suamiku kalau bersetubuh
sambil bergulat begini, aku biasa di
posisi atas, dan "lumpang"-ku yang justru menjojoh "alu"-nya suamiku.
Setiap kali lubang kemaluanku
menjojoh, Mas-ku menggelinjang
kenikmatan). Ibarat air yang dimasak, suhunya kini
sudah delapan puluh derajat. Ini
terlihat dari nafas "Bandot" yang mulai
terengah-engah. Dan keringat dari
dadanya mulai menetes. Sementara
akibat tonjokkan itu, aku sedikit saja menikmatinya, meskipun kenikmatan
yang hanya 10% itu terkubur oleh
90% rasa sakit yang kurasakan.
Ibarat orang naik motor, kini sudah
masuk ke perseneling tiga, sebab
makin lama makin cepat gerakan menggenjot-genjot tubuhku. Kulihat
mata "Bandot" ini mulai dipejam-
melekkan menikmati lubang
kemaluanku yang mulai kuat
menggigit, merasakan kenikmatan
memijat buah dadaku yang indah, putih dan montok. Kadang saja
"Bandot" ini terlihat kelelahan,
"pause" sebentar dengan
merebahkan dadanya ke dadaku,
sedang wajahnya "disembunyikan" di
samping leherku. Kalau sedang begini, aku hanya dapat berdoa,
semoga "Bandot" ini mati mendadak
terkena serangan jantung, meskipun
urusan dengan polisi nantinya akan
sangat ruwet. Ehh.. bangun lagi. Malah
tambah segar, tentu, setelah lebih kurang satu jam aku disiksa dalam
alam surganya "Bandot" ini.
Permainan agaknya akan diakhiri,
tetapi tiba-tiba "Plak.. plak.. plak.."
pipiku kanan dan kiri ditamparnya
kuat beberapa kali. Ini merupakan "kunci" untuk memaksa aku
membuka lubang kemaluan. "Aduh Pak.. sakit sekali.. Pak, aku
sudah tidak kuat lagi Pak.. dibunuh
saja aku Pak!" Tapi tentu saja suara itu
tak akan terdengar, karena tertutup
deru nafsu syahwatnya yang mulai
mencapai kecepatan 90 km per jam itu. Gojlokan batang kemaluannya ke
lubang kemaluanku makin keras dan
cepat, dan aku menggelinjang
kesakitan, menggolek-golekkan
kepalaku, meronta-ronta mau
melepaskan tikaman batang kemaluan "Bandot" ini, tetapi tentu
tak akan bisa. Bahkan rambutku yang
tersibak ke kiri dan ke kanan di depan
wajahku menjadi daya tarik tersendiri
(seperti iklan shampoo di TV itu).
Rambutku dipegangnya, disapukan ke wajahku, lalu ditaruh di depan
wajahku lagi. Setelah itu rambut
disibakkan ke pipiku. Dan hidung,
bibir, pipiku diciumnya kuat-kuat,
sambil sekali-kali digigit. Dan
sementara itu penggejotan lubang kemaluanku jalan terus. Wah..
pokoknya, ini cara orang barbar
menyetubuhi pasangannya.
Menyetubuhi sambil menyiksa. Kini badanku makin bertambah lemas,
ingatanku mulai sayup-sayup. Tetapi
suhu syahwat "Bandot" ini tambah
tinggi, dengan kecepatan diatas 100
km. "Duk.. duk.. duk.." batang
kemaluannya makin mengembang dan tetesan keringatnya makin deras,
nafasnya makin tersengal, sementara
aku meronta-ronta ingin melepaskan
diri. Tetapi kekuatanku makin lemah
dan akhirnya tak sadarkan diri. Dan
tiba-tiba.. "Achh.." Bandot ini mencapai klimaks. Kakinya
mengejang lurus, tangannya memeluk
leherku sambil menggigit pipiku. Air
maninya muncrat dari batang
kemaluannya, ditumpahkan ke
lubang kemaluanku. Dan tubuhnya lemas jatuh menimpa badanku.

<<Back to Cerita Dewasa
HHome

TOP-RATING

©2026 Benoze Corporation